Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2009

Menjelang Pilpres 2009

Oleh : Andi Sardono

Pemilu Legislatif baru saja berlalu dan kini masing - masing parpol yang masuk ke dalam 10 (sepuluh) besar pemenang Pileg (Pemilu Legislatif) masing - masing sudah menjajaki berbagai kemungkinan berkoalisi satu dengan lainnya.
Yang sangat menarik untuk disimak dan diperhatikan adalah adanya fakta bahwa "dalam berpolitik, tidak ada kawan abadi atau lawan abadi, tetapi hanya ada kepentingan abadi." Ini setidaknya muncul dalam beberapa Pemilu yang sudah berlangsung sejak tumbangnya Orde Baru dan munculnya Orde Reformasi. Dalam Pemilu 2009 ini pun, fenomena itu kembali muncul ke permukaan.
Contohnya, tekad SBY untuk menjadi Capres dari Partai Demokrat didukung oleh Amien Rais, salah seorang deklarator PAN alias Partai Amanat Nasional. Padahal, sebelumnya Amien Rais dikenal sangat getol mengkritik berbagai kebijakan Pemerintahan SBY. Atau, lihat saja Surya Dharma Ali, pimpinan PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang sebelumnya gencar diberitakan akan menjalin koalisi erat dengan PDIP pimpinan Megawati Soekarnoputri, eh ternyata di kemudian hari malah merapat ke Partai Demokrat pimpinan SBY.
Adanya berbagai kemungkinan koalisi beberapa Parpol yang berplatform nasionalis di satu sisi dan beberapa Parpol berplatform religius semakin menguatkan pameo di atas. Sudah barang tentu, sebagian besar masyarakat Indonesia yang nantinya akan menjadi konstituen dalam Pilpres 2009 sangat diharapkan mengamati dengan jeli profil, visi, misi dan track record (rekam jejak) dari para Capres - Cawapres yang akan bertarung dalam Pilpres 2009 nanti.
Jika Anda sekalian sudah mengantongi bakal Capres - Cawapres yang akan Anda pilih nanti, tentunya sungguh baik. Tetapi, akan lebih baik lagi jika kita memutuskan siapa Capres - Cawapres yang akan kita pilih nanti setelah mendapat kepastian dari KPU Pusat melalui Pengumuman Capres - Cawapres 2009 yang akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.
Bagaimana? Sudah?

Senin, 30 Maret 2009

Bijaksana Dalam Memilih

Oleh : Andi Sardono
Kampanye yang digelar berbagai Parpol di Indonesia menjelang datangnya Pemilu Legislatif tanggal 9 April 2009 mendatang tampaknya semakin beragam, mulai dari digelarnya aksi fogging atau pengasapan untuk memberantas penyebaran nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD), penceburan sekian kilogram (bahkan, ada yang sampai berkwintal - kwintal) dengan sekian jenis ikan ke beberapa kolam pemancingan milik perorangan, sungai, danau buatan (atau danau alam sekalipun), pembagian kalender 2009 (kadang kala pula disertai pembagian kaus, topi, dan atribut lainnya) bergambar Parpol dan lengkap pula dengan nomor urut caleg dari masing - masing parpol, kampanye terbuka dengan (masih pula mengadaptasi kampanye ala Orde Baru) melibatkan anak - anak usia sekolah (kalau nggak mau dibilang anak - anak di bawah umur) dan (ini pula yang bikin gregetan pihak Kepolisian dan masyarakat pengguna jalan pada umumnya) selalu saja diiringi dengan aksi kebut - kebutan.
Dengan berbagai dalih, pihak parpol bersangkutan biasanya langsung tersinggung (terkadang, malah memberikan dalih yang tidak masuk akal) ketika mereka ditegur oleh Bawaslu setempat mengenai berbagai bentuk pelanggaran kampanye yang sering terjadi di lapangan.
Tampaknya, menjadi sangat penting bagi kalangan masyarakat yang nantinya diharapkan dapat memberikan suaranya dalam Pemilu Legislatif untuk benar - benar bersikap bijaksana dan mempertimbangkan dengan sungguh - sungguh parpol mana atau caleg mana yang diharapkan akan membawa angin perubahan (ke arah yang lebih baik, tentunya) bagi pengembangan kesejahteraan masyarakat Indonesia pada umumnya dan (sudah tentu) kepentingan para konstituen pada khususnya.
Mari, bersama - sama kita kaji dan pantau track record dari masing - masing parpol dan para caleg sebelum memberikan suara untuk mereka.

Rabu, 25 Februari 2009

Pemilu 2009 Sudah Di Depan Mata

Tak terasa, Pemilihan Umum Tahun 2009 sudah ada di depan mata. Jika kita melihat ke kiri dan ke kanan jalan yang kita lalui sepanjang perjalanan kita beraktivitas, dengan mudahnya kita akan temui pajangan spanduk, brosur, bendera, baliho, pamflet atau aneka produk cetak lainnya yang menggambarkan sosok atau profil dari para Calon Legislatif (Caleg) yang berasal dari berbagai Partai Politik Peserta Pemilu 2009 nanti.
Terkadang, berbagai produk cetak tersebut ditempel secara sembarangan tanpa mengindahkan segi estetika atau keindahan dari tata ruang kota secara keseluruhan.
Lantas, mengapa para Caleg itu berlomba - lomba memasang atribut kampanye tanpa memperhatikan segi estetika kota padahal jelas - jelas sudah ada peraturan perundang - undangan yang mengatur tata tertib pemasangan atribut kampanye?
Tak lain dan tak bukan karena mereka tidak memiliki dana kampanye yang cukup untuk menggelar acara debat publik atau kampanye dialogis. Padahal, bentuk kampanye dialogis dinilai sangat efektif baik bagi para Caleg maupun para calon pemilih yang diharapkan akan memilih mereka nantinya.
Bagi para Caleg, dengan kampanye dialogis, mereka dapat merespons keinginan dan harapan publik tentang kehidupan yang lebih lagi di masa datang tentunya. Visi, misi, dan rencana program kerja para Caleg pun tentunya dapat mereka sampaikan dengan lugas dan gamblang. Selain itu, mereka juga dapat memprediksi segmen publik mana yang potensial untuk mereka garap dalam upaya meraih suara sebanyak - banyaknya dalam Pemilu Legislatif nantinya.
Bagi para calon pemilih, dengan adanya kampanye dialogis, mereka dapat menyampaikan harapan, keluhan, kritikan, atau apapun bentuk masukan yang diharapkan dapat menjadi program kerja para Caleg nantinya selepas mereka terpilih duduk di kursi parlemen. Publik pun mendapat gambaran jelas tentang profil, sosok, visi, misi, dan program kerja para Caleg yang akan menjadi wakil rakyat kelak.
Itu tadi adalah bentuk kampanye paling ideal bagi kesuksesan Pemilu 2009 nanti. Tentunya, kita semua berharap agar angka Golput yang dikuatirkan akan meledak dalam Pemilu 2009 nanti dapat ditekan seminimal mungkin (kalau bisa, malah jangan sampai ada Golput). Bagi para Partai Politik (Parpol) Peserta Pemilu, diharapkan mereka berani menerapkan langkah Kontrak Politik bagi para Caleg dari masing - masing Parpol.
Kalau para Caleg itu nanti terbukti lalai dalam menjalankan program kerjanya atau tidak dapat menunjukkan teladan yang baik dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat (seperti misalnya terlibat korupsi, skandal seks, perselingkuhan, dan lain - lain perbuatan yang semestinya tidak mereka lakukan sebagai anggota dewan terhormat), langsung saja direcall dan dijatuhi sanksi hukum pidana.
Setuju? Ya iyalah...masak lah iya dong.

Kamis, 18 September 2008

Jelang Pemilu 2009

Oleh : Andi Sardono

Tidak terasa, sebentar lagi, tahun 2009 bangsa Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi besar - besaran yaitu Pemilu 2009. Besar, dalam arti menelan biaya yang tidak sedikit alias triliunan rupiah.

Banyak janji yang pasti ditebar dan ditaburkan ke mana - mana oleh para Partai Politik (Parpol) peserta Pemilu seperti janji menggratiskan biaya pendidikan, mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi, meningkatkan pendapatan negara dengan menggenjot beberapa sektor yang berpotensial dan diyakini dapat mendulang peningkatan pendapatan negara (sehingga, ujung - ujungnya diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia yang masih banyak berada di bawah garis kemiskinan), dan lain sebagainya.

Masalahnya, pada Pemilu yang sudah - sudah, janji - janji seperti itu sudah terlalu banyak dilontarkan oleh para Parpol peserta Pemilu dan nyatanya, selepas Pemilu, banyak anggota Dewan yang telah terpilih malah lupa akan janji - janji politik yang pernah mereka lontarkan sebelumnya.

Dampak dari pengingkaran janji politik itu berimbas pada tingkat partisipasi kalangan masyarakat yang lebih memilih Golput alias Golongan Putih karena merasa dibodohi dan dibohongi belaka.

Banyak kalangan dari elite politik nasional yang menyayangkan keberadaan Golput yang persentasenya cukup tinggi itu.

Nah, daripada bisanya cuma sekedar menyayangkan dan mencemaskan thok, lebih baik para elite politik itu, baik yang duduk di kursi pemerintahan maupun yang ada di kursi parlemen, mbok yao mereka itu memperbaiki kinerja mereka dan mulai belajar merealisasikan janji - janji politik mereka ke depannya nanti.

Gimana? Setuju?