In nomine Patris et Filii et Spiritu Sancti. Amen
Jika kita perhatikan, kronologi Perayaan Paskah tahun 2010 ini terbilang istimewa karena dirayakan pada Tahun Imam yang didedikasikan oleh Gereja Katholik untuk menghormati martabat dan hakekat Sakramen Imamat. Terkait dengan hal itu, tidak ada salahnya jika kita melihat kembali makna perayaan mulai dari Perayaan Minggu Palma hingga Minggu Paskah dari sisi Tahun Imam yang masih berlangsung ini. Penarikan benang keterkaitan dalam tulisan ini murni dikembangkan dari penghayatan akan setiap peristiwa dan beberapa bacaan Injil yang disajikan dalam setiap perayaan selama Pekan Suci kemarin. Berikut ini adalah uraiannya :
1. Minggu Palma
Bacaan awal pada pemberkatan daun-daun palma diambil dari Lukas 19:28-40. Kita dapat membaca bahwa kedatangan Kristus Yesus ke Yerusalem untuk menggenapi peristiwa penganiayaan hingga penyaliban diri-Nya telah dimulai dengan penyambutan oleh segenap rakyat Israel akan kedatangan-Nya yang dianggap sebagai Raja yang kelak diharapkan oleh mereka akan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi dan mencapai kejayaan sebagai bangsa Israel seutuhnya sebagaimana pernah terjadi dalam era Perjanjian Lama. Dalam kerangka Tahun Imam sekarang ini, sangat diharapkan tentunya kita bersama Gereja-Nya melalui tangan dan teladan iman para Imam-Nya menyambut kedatangan Kristus Yesus sebagai Raja sekaligus menghayati makna pengorbanan Kristus yang mau datang ke Yerusalem untuk menyerahkan diri-Nya menjalani kisah sengsara hingga penyaliban-Nya kelak. Ambil bagian dalam martabat Rajani Kristus bisa kita mulai dengan berkorban bagi keselamatan jiwa sesama kita dan kemuliaan-Nya sehingga Kristus Yesus semakin dikenal oleh setiap orang sesuai Iman Katholik dari para Rasul-Nya. Hal ini sekaligus diingatkan oleh Gereja-Nya dari Bacaan Injil Minggu Palma yang diambil dari Lukas 23:1-49 yang memuat Kisah Sengsara Kristus hingga wafat-Nya di kayu salib.
2. Kamis Putih
Peristiwa pembasuhan kaki para Rasul oleh Kristus Yesus, penetapan Perjamuan Ekaristi, dan penghormatan akan Tubuh dan Darah Kristus menjadi sentra perhatian kita dalam Perayaan Kamis Putih itu. Ketiga peristiwa itu sekaligus mengingatkan kita kembali akan makna saling melayani dan merasakan Tubuh dan Darah Kristus yang telah mengalami transubstansiasi dalam setiap Perayaan Ekaristi yang kita ikuti. Sejalan dengan itu, Tahun Imam yang dipersembahkan oleh Gereja-Nya membawa kita sebagai kaum awam untuk mendukung penuh karya pelayanan para Imam untuk membawa semakin banyak jiwa mengalami persatuan utuh nan membahagiakan dengan Tubuh Mistik Kristus (ialah Gereja-Nya) dengan Santo Petrus sebagai batu karang-Nya yang teguh. Mengikuti setiap Perayaan Ekaristi dengan sikap kerendahhatian dan ketulusan sejati serta tidak menganggap remeh dan rendah saudara-saudara seiman yang tidak mengikuti kegiatan kelompok kita tentulah sangat bertentangan dengan semangat Kamis Putih itu.
3. Jumat Agung
Penghormatan akan Kayu Salib yang menjadi saksi bisu akan wafat Kristus Yesus dan serangkaian peristiwa sengsara dan penyaliban diri-Nya menjadi sentra perhatian kita sekalian dalam Perayaan Jumat Agung itu. Perjuangan Kristus Yesus sebagai Allah yang memanusia mendapat penekanan dalam perayaan yang mengharukan itu. Kaitannya dengan Tahun Imam ini, kita tentu ingat kembali akan perjuangan hidup dan tantangan kita masing-masing dalam mewartakan Iman Katholik kita terutama jika dihubungkan dengan pergaulan sosial kita dengan orang-orang yang tidak seiman dengan kita. Teladan hidup para Imam-Nya dalam membina relasi dengan orang-orang yang tidak seiman kiranya dapat memacu semangat kita untuk terus bersaksi sebagai umat-Nya di tengah toleransi kehidupan beragama yang sekarang sedang menjalani ujian berat di negeri tercinta ini.
4. Sabtu Malam Vigili Paskah
Pembaruan Janji Baptis menjadi sentra perhatian kita dalam Perayaan Malam Vigili Paskah itu. Sebagai pengikut Kristus, kita diingatkan kembali oleh Gereja-Nya untuk turut serta mendukung penuh dan mengemban misi karya penyelamatan Allah melalui teladan hidup para Rasul-Nya sebagai Imam perdana dalam Gereja-Nya. Potret nyata para Rasul-Nya kini nyata dalam para Imam Gereja-Nya yang tidak henti-hentinya memberi teladan kita akan Janji Baptis yang sudah semestinya kita laksanakan dalam hidup sehari-hari. Ini adalah konsekuensi logis dari pilihan kita untuk mengikuti Kristus dalam Gereja-Nya.
5. Minggu Paskah
Sukacita para murid-Nya mendapati kubur Yesus yang kosong menandakan bahwa Kristus telah bangkit. Jika kita melihat kembali sejarah awal Gereja-Nya, maka kita lihat bahwa sukacita tersebut tidak berhenti sampai di situ. Para murid-Nya kemudian melaksanakan tugas perutusan dari-Nya mewartakan dan menabur benih Iman Katholik ke seluruh penjuru dunia. Mereka menghayati dengan sungguh martabat Imamat yang mereka peroleh dari Yesus. Sebagai kaum awam, kita pun turut mengemban tanggung jawab yang sama walau kita tidak memiliki martabat Imamat yang sakramental seperti yang dimiliki oleh para Imam-Nya itu.
Singkat kata, melalui Perayaan Paskah kita diajak oleh Tuhan untuk mau memulai hidup baru lagi seturut teladan para Imam-Nya, bukan demi tujuan dan ambisi pribadi kita tapi demi kemuliaan Allah dalam Bahtera yang Satu dan Katholik menuju Pelabuhan terakhir yang telah dijanjikan-Nya untuk kita semua.
Blog ini adalah milik saya, terbuka untuk umum (kecuali untuk makhluk luar angkasa alias UFO, he..he..he..), dapat diakses dari mana aja, kecuali dari luar angkasa itu sendiri.
Tampilkan postingan dengan label Katolisitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Katolisitas. Tampilkan semua postingan
Selasa, 30 Maret 2010
Senin, 21 Desember 2009
Doa Katholik secara Latin
In nomine Patris et Filii et Spiritu Sancti. Amen.
Pater Noster
Pater noster
qui es in caelis
Sanctificetur nomen tuum
Adveniat regnum tuum
fiat voluntas tua,
Sicut in caelo et in terra
Panem nostrum quotidianum da nobis hodie
et dimitte nobis debita nostra
sicut et nos dimittimus debitoribus nostris.
Et ne nos inducas in tentationem
sed libera nos a malo.
Amen.
Ave Maria
Ave Maria, gratia plena,
Dominus tecum,
benedicta tu in mulieribus,
et benedictus fructus ventris tui, Jesus.
Sancta Maria, Mater Dei,
ora pro nobis peccatoribus, nunc, et in hora mortis nostrae.
Amen.
Pater Noster
Pater noster
qui es in caelis
Sanctificetur nomen tuum
Adveniat regnum tuum
fiat voluntas tua,
Sicut in caelo et in terra
Panem nostrum quotidianum da nobis hodie
et dimitte nobis debita nostra
sicut et nos dimittimus debitoribus nostris.
Et ne nos inducas in tentationem
sed libera nos a malo.
Amen.
Ave Maria
Ave Maria, gratia plena,
Dominus tecum,
benedicta tu in mulieribus,
et benedictus fructus ventris tui, Jesus.
Sancta Maria, Mater Dei,
ora pro nobis peccatoribus, nunc, et in hora mortis nostrae.
Amen.
Senin, 12 Oktober 2009
Peran Serta dalam Karya Pelayanan Gereja (Oleh : Andi Sardono)
Di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya, partisipasi umat beriman dalam kehidupan GerejaNya selalu dilihat oleh para pemerhati Gereja sebagai hal yang menggembirakan. Salah satu indikatornya adalah bermunculannya banyak kelompok kategorial yang melibatkan kaum awam beriman sebagai anggota dan (beberapa di antaranya) bertindak sebagai penggerak kelompok – kelompok tersebut. Tentunya, kehadiran dan kegiatan kelompok – kelompok kategorial itu sangat berarti bagi karya pelayanan Gereja di Tanah Air kita.
Namun, jika tidak disadari dan diantisipasi, ada bahaya besar yang dapat timbul dari kehadiran sekian banyak kelompok tersebut, yaitu munculnya persaingan tidak sehat dan melemahnya semangat pelayanan di antara mereka. Yang terjadi kemudian, kelompok satu sama lain saling menjatuhkan dan merasa diri paling benar dalam posisi dan kedudukannya di GerejaNya. Misalnya, ada satu kelompok yang merasa diri mempunyai hubungan paling dekat dengan Bunda Maria dan menganggap yang lainnya tidak dekat dengan Bunda Maria. Ada pula kelompok lainnya yang mengklaim berhubungan paling intens dengan Roh Kudus dan menganggap yang lainnya jauh dari Roh Kudus, dan sekian banyak contoh lainnya lagi.
Bacaan Injil hari ini (Minggu tanggal 18 Oktober 2009) dari Markus 10:35 – 45 secara tidak langsung mengingatkan kita akan tugas pokok yang kita emban sebagai bagian integral dan tak terpisahkan dari GerejaNya, yaitu tugas melayani. Kristus Yesus meminta para RasulNya ketika itu untuk mendukung karya pewartaanNya dengan hidup saling melayani satu sama lain sebagai sesama anggota GerejaNya. Puji Tuhan, walau sebelumnya mereka terlibat pertengkaran dengan St. Yakobus dan St. Yohanes tentang siapa yang terbesar di antara mereka, tapi kelak di kemudian hari mereka hidup saling melayani satu sama lain dalam tugas pewartaan GerejaNya hingga ke beberapa penjuru dunia.
Dalam kaitan dengan bacaan tersebut, Gereja juga menegaskan kembali ajakan Yesus tersebut seperti yang tertuang dalam Katekismus Gereja Katholik (KGK) No. 897 yang intinya kita semua dipanggil olehNya untuk turut serta mengambil bagian dalam pelaksanaan tugas Kristus yang adalah Kepala Gereja, yaitu dalam tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus.
Sebagai bagian dari umat beriman, ketiga tugas itu diharapkan dapat kita lakukan dengan sepenuh hati demi pelayanan kita kepada Tubuh Mistik Kristus, yaitu GerejaNya sendiri.
Partisipasi kita dalam pelaksanaan tugas Kristus sebagai imam dapat kita lakukan dalam semua karya, kehidupan berdoa, setiap usaha kerasulan kita, setiap usaha kita dalam membina hidup berkeluarga dan hubungan suami istri, setiap jerih payah kita sehari – hari, setiap waktu beristirahat bagi jiwa dan badan kita, serta dalam setiap usaha kita menanggung beban hidup kita dengan sabar, yang semuanya itu jika kita jalankan dalam Roh, layak kita persatukan dengan kurban Kristus Yesus dalam Perayaan Ekaristi (bdk KGK No. 901).
Selanjutnya, partisipasi kita dalam pelaksanaan tugas Kristus sebagai nabi dapat kita lakukan melalui karya penginjilan (dalam kesaksian hidup dan kata – kata), ikut serta dalam pelajaran katekese, terlibat dalam ilmu pengetahuan teologi, berperan serta dalam karya kerasulan media komunikasi (misalnya, melalui internet dan berbagai media massa lainnya), serta turut terlibat dalam setiap sumbang saran kita kepada para gembala Gereja dan umat beriman lainnya dengan tetap menjaga kesusilaan dan sikap hormat kita kepada mereka serta memperhatikan manfaat umum dan martabat pribadi orang (bdk KGK No. 905 s.d 907).
Sedangkan, partisipasi kita dalam pelaksanaan tugas Kristus sebagai raja diwujudkan dalam bentuk kerja sama menyehatkan lembaga – lembaga dan kondisi – kondisi masyarakat, terlibat dalam karya pelayanan Gereja (seperti terlibat dalam setiap kegiatan kelompok kategorial) dan terlibat dalam pelaksanaan kuasa Yurisdiksi GerejaNya (seperti terlibat dalam Komisi – komisi, dan kegiatan pastoral yang terdapat dalam struktur GerejaNya) menurut hokum yang berlaku dengan tetap menganut suara hati Kristiani (bdk KGK No. 909 s.d 912).
Demikianlah, dengan menyelami kembali semangat pelayanan kita sebagai anggota GerejaNya sesuai amanat Kristus dan teladan hidup Para RasulNya dalam mengamalkan Ajaran Kristus, diharapkan kita tidak terjebak dalam sikap sombong, saling menjatuhkan, dan merendahkan satu sama lain dalam tugas pelayanan kita kepada Tubuh MistikNya. Amin.
Rabu, 15 Juli 2009
Hidup Setia di Bawah Penggembalaan GerejaNya
Oleh : Andi Sardono
Kita tentu ingat akan sebuah lagu yang bagus dan terdapat dalam Buku Puji Syukur, yaitu lagu no. 646 yang menggambarkan keyakinan iman dari salah seorang nabi Perjanjian Lama, yaitu Daud. Lagu itu dikutip dari Mazmur 23 : 1 – 6 yang juga merupakan Mazmur Daud, berkisah tentang kedudukan Allah sebagai Gembala bagi dirinya (Daud) yang penuh perhatian membimbing, mengarahkan dan menjaganya siang dan malam.
Kesaksian iman Daud itu kemudian ditegaskan kembali oleh Yesus Kristus, sebagaimana Bacaan injil hari Minggu tanggal 19 Juli 2009 yahg diambil dari Injil St. Markus 6:30 – 34. Kita bisa simak, Dia mewartakan DiriNya sebagai Gembala yang menaruh belas kasih kepada sekian banyak orang yang datang dari segenap penjuru kota di Israel untuk mengikutiNya bersama para muridNya. Dalam peristiwa itu, Yesus menggenapi apa yang pernah dinubuatkan oleh Daud dalam kutipan Mazmur tadi. Begitu melihat rombongan besar orang yang mengikutiNya dari belakang, Dia tergerak oleh rasa belas kasih dan memutuskan untuk menunda rencana semula beristirahat bersama para muridNya dan kemudian mulai mengajarkan banyak hal kepada mereka semua (orang – orang yang mengikutiNya) laksana Gembala “yang membaringkan domba – dombaNya di padang luas yang berumput hijau, yang membimbing mereka semua ke air yang tenang, yang menyegarkan jiwa – jiwa para dombaNya dan yang menuntun mereka di jalan yang benar dalam NamaNya yang Kudus,” sama persis seperti kutipan Mazmur 23:1 – 6.
Tugas penggembalaan yang dirintis dan dilaksanakan oleh Yesus Kristus tidak hanya berlangsung ketika Dia masih berada di dunia bersama para muridNya, tetapi juga ketika Dia sudah naik dan duduk di sisi kanan BapaNya pun tugas penggembalaanNya itu kemudian diteruskan oleh para Rasul Kristus yang terhimpun dalam Gereja Katholik. Hal ini terjadi setelah Dia meminta kesediaan St. Petrus (sebagai bukti cinta setia St. Petrus kepada Kristus Yesus) untuk melanjutkan tongkat penggembalaanNya sepeninggal Dia naik ke Surga (bdk Yoh 21:15 – 19).
Selanjutnya Kitab Suci mencatat, sebagai Paus Pertama Gereja Katholik, St. Petrus memimpin Konsili Yerusalem pada tahun 51 (Kisah Para Rasul 15) dan menyelesaikan perselisihan tentang Ajaran GerejaNya. Menurut Tradisi Suci, dia menggembalakan sekian banyak umat Katholik yang pada waktu itu sudah tersebar merata hampir di semua bagian daratan Asia dan Afrika.
Dalam Katekismus Gereja Katholik dijelaskan pula bahwa di bawah bimbingan Roh Kudus, GerejaNya (yang dibangun di atas dasar St. Petrus dan para Rasul Kristus) kemudian mengajarkan banyak kebenaran yang dipelajari Gereja dari para RasulNya. Secara terus – menerus, GerejaNya diajari, dibimbing, dan dikuduskan oleh Roh Kudus yang bekerja melalui pengganti para RasulNya, yaitu Dewan Para Uskup dalam persatuan utuh dengan pengganti St. Petrus sebagai Paus (Bapa Suci). Ini merupakan salah satu penjelasan mengapa Gereja Katholik mewarisi sifat Apostolik dan sekaligus membantah tudingan miring dari sementara orang bahwa dalam GerejaNya tidak ada Roh Kudus sehingga menurut mereka (segelintir orang) GerejaNya perlu diperbarui.
Sebagai umat beriman yang menerima panggilanNya untuk bersatu dalam pangkuan GerejaNya, kita semua adalah juga merupakan domba – dombaNya yang berada di bawah penggembalaan Paus Benedictus XVI sebagai penerus St. Petrus seperti halnya Paus Yohanes Paulus II dan para Bapa Suci pendahulunya.
Konsekuensi logisnya, kita pun diminta oleh Kristus Yesus untuk tetap berjalan sesuai tuntunan GerejaNya. Dalam Lumen Gentium 25 (LG 25) ditegaskan bahwa sebagai orang beriman, kita diwajibkan untuk menerima ketetapan – ketetapan yang diajarkan oleh GerejaNya (baik yang disampaikan melalui Wewenang Mengajar Gereja yang Luar Biasa maupun melalui Wewenang Mengajar Gereja yang Biasa) dengan penuh ketaatan iman, kepatuhan kehendak, dan akal budi yang suci. Sebagai domba – dombaNya, tentu kita merasa berat untuk menerima konsekuensi di atas jika kita hanya memandangnya dari sisi manusiawi kita saja. Terlebih, ada banyak tawaran di dunia berselubungkan paham atau isme yang menyesatkan bak “serigala berbulu domba” yang silih berganti menghampiri kita dan semuanya berpotensi dapat menggoyah komitmen kesetiaan kita untuk hidup jujur dan benar sebagai domba – dombaNya. Salah satu contoh konkritnya, misalnya ketika kita merasa bahwa penderitaan dan kesulitan yang kita alami di dunia ini tidak kunjung teratasi padahal kita selalu menghadiri Perayaan Ekaristi dan kemudian datang suatu paham yang menawarkan bentuk ibadat lain (dari yang selama ini kita kenal dalam GerejaNya) yang lebih mengedepankan euphoria atau heboh gegap gempita sesaat lengkap dengan iming – iming kesuksesan duniawi, maka kita cenderung untuk mengikuti paham tersebut. Lambat laun, kita menjadi malas menghadiri Perayaan Ekaristi dan lebih memilih menghadiri ibadat lain yang lebih menggiurkan atau lebih liberal dari sisi duniawi. Atau, ada juga yang menawarkan bentuk lain dari Tata Perayaan Ekaristi yang sudah ditetapkan oleh GerejaNya dengan memasukkan unsur – unsur lain dari suatu paham ke dalam Tata Perayaan Ekaristi. Ini jelas bertentangan dengan penegasan para Rasul Kristus seperti yang terangkum dalam Katekismus Gereja Katholik yaitu bahwa Kristus membagikan karunia keselamatanNya melalui Liturgi GerejaNya.
Tentu, masih banyak lagi contoh konkrit lainnya yang semuanya itu menuntut kita untuk mau bersikap waspada dan berhati – hati terhadap serbuan “serigala berbulu domba” yang coba mencerai – beraikan kita dari kumpulan domba yang terhimpun dalam GerejaNya.
Dari pihak Allah, ternyata Dia tidak meninggalkan kita sendirian berjuang menjalankan Amanat Kristus Yesus dalam GerejaNya. Dengan kasihNya yang begitu besar, Dia tidak menginginkan satu pun dombaNya yang hilang tersesat. Sesuai JanjiNya, Dia mengutus Roh Kudus kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus dan menaati perintah – perintahNya (bdk 1 Yoh 3:23 – 24, 1 Yoh 4:13, 1 Kor 12:3, dan Kis 5:29 – 32). Dengan kata lain, Roh Kudus membimbing setiap orang untuk datang kepadaNya melalui GerejaNya.
Akhirnya, semoga pengalaman hidup yang ditunjukkan sekian banyak orang yang mengikuti Yesus bersama para RasulNya seperti kita simak dalam Injil St. Markus dan kesaksian iman para martir GerejaNya dapat membangkitkan semangat kita semua untuk bertahan hidup dalam kesetiaan iman, keteguhan harapan, dan kerelaan kasih di bawah penggembalaan GerejaNya. Amin.
Kesaksian iman Daud itu kemudian ditegaskan kembali oleh Yesus Kristus, sebagaimana Bacaan injil hari Minggu tanggal 19 Juli 2009 yahg diambil dari Injil St. Markus 6:30 – 34. Kita bisa simak, Dia mewartakan DiriNya sebagai Gembala yang menaruh belas kasih kepada sekian banyak orang yang datang dari segenap penjuru kota di Israel untuk mengikutiNya bersama para muridNya. Dalam peristiwa itu, Yesus menggenapi apa yang pernah dinubuatkan oleh Daud dalam kutipan Mazmur tadi. Begitu melihat rombongan besar orang yang mengikutiNya dari belakang, Dia tergerak oleh rasa belas kasih dan memutuskan untuk menunda rencana semula beristirahat bersama para muridNya dan kemudian mulai mengajarkan banyak hal kepada mereka semua (orang – orang yang mengikutiNya) laksana Gembala “yang membaringkan domba – dombaNya di padang luas yang berumput hijau, yang membimbing mereka semua ke air yang tenang, yang menyegarkan jiwa – jiwa para dombaNya dan yang menuntun mereka di jalan yang benar dalam NamaNya yang Kudus,” sama persis seperti kutipan Mazmur 23:1 – 6.
Tugas penggembalaan yang dirintis dan dilaksanakan oleh Yesus Kristus tidak hanya berlangsung ketika Dia masih berada di dunia bersama para muridNya, tetapi juga ketika Dia sudah naik dan duduk di sisi kanan BapaNya pun tugas penggembalaanNya itu kemudian diteruskan oleh para Rasul Kristus yang terhimpun dalam Gereja Katholik. Hal ini terjadi setelah Dia meminta kesediaan St. Petrus (sebagai bukti cinta setia St. Petrus kepada Kristus Yesus) untuk melanjutkan tongkat penggembalaanNya sepeninggal Dia naik ke Surga (bdk Yoh 21:15 – 19).
Selanjutnya Kitab Suci mencatat, sebagai Paus Pertama Gereja Katholik, St. Petrus memimpin Konsili Yerusalem pada tahun 51 (Kisah Para Rasul 15) dan menyelesaikan perselisihan tentang Ajaran GerejaNya. Menurut Tradisi Suci, dia menggembalakan sekian banyak umat Katholik yang pada waktu itu sudah tersebar merata hampir di semua bagian daratan Asia dan Afrika.
Dalam Katekismus Gereja Katholik dijelaskan pula bahwa di bawah bimbingan Roh Kudus, GerejaNya (yang dibangun di atas dasar St. Petrus dan para Rasul Kristus) kemudian mengajarkan banyak kebenaran yang dipelajari Gereja dari para RasulNya. Secara terus – menerus, GerejaNya diajari, dibimbing, dan dikuduskan oleh Roh Kudus yang bekerja melalui pengganti para RasulNya, yaitu Dewan Para Uskup dalam persatuan utuh dengan pengganti St. Petrus sebagai Paus (Bapa Suci). Ini merupakan salah satu penjelasan mengapa Gereja Katholik mewarisi sifat Apostolik dan sekaligus membantah tudingan miring dari sementara orang bahwa dalam GerejaNya tidak ada Roh Kudus sehingga menurut mereka (segelintir orang) GerejaNya perlu diperbarui.
Sebagai umat beriman yang menerima panggilanNya untuk bersatu dalam pangkuan GerejaNya, kita semua adalah juga merupakan domba – dombaNya yang berada di bawah penggembalaan Paus Benedictus XVI sebagai penerus St. Petrus seperti halnya Paus Yohanes Paulus II dan para Bapa Suci pendahulunya.
Konsekuensi logisnya, kita pun diminta oleh Kristus Yesus untuk tetap berjalan sesuai tuntunan GerejaNya. Dalam Lumen Gentium 25 (LG 25) ditegaskan bahwa sebagai orang beriman, kita diwajibkan untuk menerima ketetapan – ketetapan yang diajarkan oleh GerejaNya (baik yang disampaikan melalui Wewenang Mengajar Gereja yang Luar Biasa maupun melalui Wewenang Mengajar Gereja yang Biasa) dengan penuh ketaatan iman, kepatuhan kehendak, dan akal budi yang suci. Sebagai domba – dombaNya, tentu kita merasa berat untuk menerima konsekuensi di atas jika kita hanya memandangnya dari sisi manusiawi kita saja. Terlebih, ada banyak tawaran di dunia berselubungkan paham atau isme yang menyesatkan bak “serigala berbulu domba” yang silih berganti menghampiri kita dan semuanya berpotensi dapat menggoyah komitmen kesetiaan kita untuk hidup jujur dan benar sebagai domba – dombaNya. Salah satu contoh konkritnya, misalnya ketika kita merasa bahwa penderitaan dan kesulitan yang kita alami di dunia ini tidak kunjung teratasi padahal kita selalu menghadiri Perayaan Ekaristi dan kemudian datang suatu paham yang menawarkan bentuk ibadat lain (dari yang selama ini kita kenal dalam GerejaNya) yang lebih mengedepankan euphoria atau heboh gegap gempita sesaat lengkap dengan iming – iming kesuksesan duniawi, maka kita cenderung untuk mengikuti paham tersebut. Lambat laun, kita menjadi malas menghadiri Perayaan Ekaristi dan lebih memilih menghadiri ibadat lain yang lebih menggiurkan atau lebih liberal dari sisi duniawi. Atau, ada juga yang menawarkan bentuk lain dari Tata Perayaan Ekaristi yang sudah ditetapkan oleh GerejaNya dengan memasukkan unsur – unsur lain dari suatu paham ke dalam Tata Perayaan Ekaristi. Ini jelas bertentangan dengan penegasan para Rasul Kristus seperti yang terangkum dalam Katekismus Gereja Katholik yaitu bahwa Kristus membagikan karunia keselamatanNya melalui Liturgi GerejaNya.
Tentu, masih banyak lagi contoh konkrit lainnya yang semuanya itu menuntut kita untuk mau bersikap waspada dan berhati – hati terhadap serbuan “serigala berbulu domba” yang coba mencerai – beraikan kita dari kumpulan domba yang terhimpun dalam GerejaNya.
Dari pihak Allah, ternyata Dia tidak meninggalkan kita sendirian berjuang menjalankan Amanat Kristus Yesus dalam GerejaNya. Dengan kasihNya yang begitu besar, Dia tidak menginginkan satu pun dombaNya yang hilang tersesat. Sesuai JanjiNya, Dia mengutus Roh Kudus kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus dan menaati perintah – perintahNya (bdk 1 Yoh 3:23 – 24, 1 Yoh 4:13, 1 Kor 12:3, dan Kis 5:29 – 32). Dengan kata lain, Roh Kudus membimbing setiap orang untuk datang kepadaNya melalui GerejaNya.
Akhirnya, semoga pengalaman hidup yang ditunjukkan sekian banyak orang yang mengikuti Yesus bersama para RasulNya seperti kita simak dalam Injil St. Markus dan kesaksian iman para martir GerejaNya dapat membangkitkan semangat kita semua untuk bertahan hidup dalam kesetiaan iman, keteguhan harapan, dan kerelaan kasih di bawah penggembalaan GerejaNya. Amin.
In nomine Patris et Filii et Spiritu Sancti. Amen
Menghadapi Konsekuensi Penolakan dan Penganiayaan sebagaimana Teladan Hidup Kristus dan Para RasulNYA
Oleh : Andi Sardono
Dalam setiap usaha kita untuk mewartakan AjaranNYA dengan sungguh – sungguh, kita pasti pernah mengalami penolakan dari orang – orang yang kita jumpai, entah itu dari sahabat, teman, atau mungkin dari kaum kerabat sendiri. Umumnya, penolakan itu lebih disebabkan karena pola pikir yang sudah terlanjur tertanam dalam diri pribadi mereka.
Bacaan Injil hari Minggu tanggal 5 Juli 2009 yang dikutip dari Injil St. Markus 6 : 1 – 6 mengedepankan sebuah kisah penolakan yang dialami oleh Yesus Kristus ketika Dia mengawali karya perutusanNYA di tanah tempat kelahiranNYA sendiri.
Dia ditolak justru oleh orang – orang yang sedaerah denganNYA. Mereka tidak percaya akan pewartaan yang berasal dari Bapa dan memperoleh kepenuhanNYA dalam Diri PutraNYA, Yesus Kristus. Dalam benak mereka, sudah terlanjur tertanam pola pikir bahwa seorang anak tukang kayu tidak akan bisa menjadi pewarta Sabda Allah lengkap dengan mukjizat dan aneka karuniaNYA. Sungguh ironis penolakan yang dialamiNYA itu, sehingga Dia sendiri heran atas ketidakpercayaan mereka.
Rupanya, penolakan yang dialami oleh Yesus Kristus sebagai Kepala GerejaNYA, kelak juga dialami oleh para muridNYA di kemudian hari. Bahkan, mengikuti jejak Yesus Kristus yang wafat sebagai martir di atas kayu salib, beberapa dari mereka pun juga mengalami penganiayaan pada awal perkembangan GerejaNYA, sampai akhirnya wafat sebagai martir di tempat mereka berkarya menjalankan amanat Kristus Yesus. Ya, sepeninggal Kristus Yesus naik ke Surga dan setelah menerima karunia Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta, para RasulNYA (minus Yudas Iskariot) yang adalah Uskup – uskup Gereja Katholik yang pertama, kemudian melanjutkan karya pewartaan Kabar Gembira ke seluruh penjuru dunia.
Mereka dengan gagah berani membaptis sesuai amanat Kristus Yesus dalam Mat 28 : 19 – 20, mengarahkan dan memelihara GerejaNYA secara Satu, Kudus, Katholik, dan Apostolik (Katekismus Gereja Katholik No. 781 – 870). Walau mereka ditolak oleh kaum Yahudi, suku asal mereka, namun akhirnya hasil perjuangan mereka hingga tetes darah terakhir sebagai martir membuahkan benih – benih iman Katholik di tempat mereka berkarya. Menurut Tradisi Suci, banyak orang yang semula membenci mereka namun begitu melihat kegigihan mereka hingga wafat sebagai martir lantas berbalik kepada Allah dan memberi diri dibaptis dalam kesatuan utuh dengan GerejaNYA.
Berikut ini adalah nama – nama para Rasul Kristus sebagaimana dimaksud :
1. St. Petrus : berkarya di daerah seputar Yerusalem, Antiokhia, kemudian di Roma sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Roma semasa kekaisaran Nero.
2. St. Andreas : berkarya di Yunani bagian Utara (Epirus dan Scythia) dan di Patras sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Patras.
3. St. Yakobus bin Zebedeus : berkarya di daerah seputar Yerusalem dan wafat sebagai martir semasa pemerintahan Raja Herodes Agripa (Kis 12:1 – 2).
4. St. Yohanes Penginjil : berkarya di daerah Roma dan Efesus (Asia Kecil). Dia sempat diasingkan ke Pulau Patmos selama setahun atas perintah Kaisar Domitian setelah usaha pembunuhan terhadapnya yang dilakukan atas perintah sang Kaisar mengalami kegagalan.
5. St. Filipus : berkarya di daerah Phrygia sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Hierapolis (Yunani) semasa Kaisar Domitian berkuasa.
6. St. Bartolomeus : berkarya di Etiopia, India, Persia, dan Armenia sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Abanopolis (Tepi Barat Laut Kaspia).
7. St. Thomas Didimus : berkarya di Laut Kaspia, Parthian, Medes, Teluk Persia, dan India sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Kota Madras, India (tempatnya sendiri bernama Carmine).
8. St. Matius : berkarya di Yudea, Etiopia, Persia, dan Parthia sebelum wafat sebagai martir.
9. St. Yudas Tadeus : berkarya di Yudea, Samaria, Idumea, Siria, Beirut, Edessa, Mesopotamia, Persia, dan Libya sebelum wafat sebagai martir di Persia.
10. St. Yakobus bin Alfeus : berkarya di Yerusalem sampai wafat sebagai martir di Yerusalem juga.
11. St. Simon : berkarya di berbagai tempat di Timur Tengah sampai wafat sebagai martir.
Selain pengalaman mereka, tentu masih banyak lagi pengalaman serupa, seperti penolakan, penganiayaan, dan pengasingan yang juga banyak dialami oleh para Kudus Allah lainnya dalam mewartakan Ajaran GerejaNYA.
Pesan yang hendak disampaikan dari pengalaman hidup para Rasul Kristus bagi kita yang sudah menerima Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma tentunya adalah agar di kala kita mengalami berbagai peristiwa pahit dalam mewartakan AjaranNYA, kita hendaknya tidak berputus asa, tetapi mampu tampil sebagai saksi akan Iman Kristiani sebagaimana diamanatkan oleh Para Rasul Kristus dan dirangkum dengan sangat tepat dalam Katekismus Gereja Katholik No. 1316, sebagai berikut :
“Krisma (Penguatan) menyempurnakan rahmat Pembaptisan. Itu adalah Sakramen yang memberi Roh Kudus, supaya mengakarkan kita lebih kuat dalam persekutuan anak – anak Allah, menggabungkan kita lebih erat dengan Kristus, memperkuat hubungan kita dengan Gereja, membuat kita mengambil bagian yang lebih banyak dalam perutusannya dan membantu kita supaya memberi kesaksian iman Kristen dengan perkataan dan perbuatan.”
Barangkali, kita tidak akan pernah wafat sebagai martir seperti perjalanan hidup para RasulNYA, tapi dengan menimba semangat dari para Kudus Allah yang rela wafat demi mewartakan AjaranNYA, setidaknya kita memiliki jaminan akan kehidupan kekal di Surga bagi setiap orang yang hidup dalam persatuan utuh dengan Kristus (1 Kor 15 : 20 – 22) sebagaimana tertulis dalam Katekismus Gereja Katholik No. 655 sebagai berikut :
“ Akhirnya kebangkitan Kristus - dan Kristus yang telah bangkit itu sendiri - adalah sebab dan dasar utama kebangkitan kita yang akan datang: "Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung... Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikianlah semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus" (1 Kor 15:20-22). Selama menantikan pemenuhan ini, Kristus yang telah bangkit hidup dalam hati umat beriman. Dalam Kristus yang telah bangkit, umat Kristen mengecap "karunia-karunia dunia yang akan datang" (Ibr 6:5) dan hidupnya dilindungi Kristus di dalam Allah Bdk. Kol 3:1-3., "supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka" (2 Kor 5:15).”
Semoga...
Bacaan Injil hari Minggu tanggal 5 Juli 2009 yang dikutip dari Injil St. Markus 6 : 1 – 6 mengedepankan sebuah kisah penolakan yang dialami oleh Yesus Kristus ketika Dia mengawali karya perutusanNYA di tanah tempat kelahiranNYA sendiri.
Dia ditolak justru oleh orang – orang yang sedaerah denganNYA. Mereka tidak percaya akan pewartaan yang berasal dari Bapa dan memperoleh kepenuhanNYA dalam Diri PutraNYA, Yesus Kristus. Dalam benak mereka, sudah terlanjur tertanam pola pikir bahwa seorang anak tukang kayu tidak akan bisa menjadi pewarta Sabda Allah lengkap dengan mukjizat dan aneka karuniaNYA. Sungguh ironis penolakan yang dialamiNYA itu, sehingga Dia sendiri heran atas ketidakpercayaan mereka.
Rupanya, penolakan yang dialami oleh Yesus Kristus sebagai Kepala GerejaNYA, kelak juga dialami oleh para muridNYA di kemudian hari. Bahkan, mengikuti jejak Yesus Kristus yang wafat sebagai martir di atas kayu salib, beberapa dari mereka pun juga mengalami penganiayaan pada awal perkembangan GerejaNYA, sampai akhirnya wafat sebagai martir di tempat mereka berkarya menjalankan amanat Kristus Yesus. Ya, sepeninggal Kristus Yesus naik ke Surga dan setelah menerima karunia Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta, para RasulNYA (minus Yudas Iskariot) yang adalah Uskup – uskup Gereja Katholik yang pertama, kemudian melanjutkan karya pewartaan Kabar Gembira ke seluruh penjuru dunia.
Mereka dengan gagah berani membaptis sesuai amanat Kristus Yesus dalam Mat 28 : 19 – 20, mengarahkan dan memelihara GerejaNYA secara Satu, Kudus, Katholik, dan Apostolik (Katekismus Gereja Katholik No. 781 – 870). Walau mereka ditolak oleh kaum Yahudi, suku asal mereka, namun akhirnya hasil perjuangan mereka hingga tetes darah terakhir sebagai martir membuahkan benih – benih iman Katholik di tempat mereka berkarya. Menurut Tradisi Suci, banyak orang yang semula membenci mereka namun begitu melihat kegigihan mereka hingga wafat sebagai martir lantas berbalik kepada Allah dan memberi diri dibaptis dalam kesatuan utuh dengan GerejaNYA.
Berikut ini adalah nama – nama para Rasul Kristus sebagaimana dimaksud :
1. St. Petrus : berkarya di daerah seputar Yerusalem, Antiokhia, kemudian di Roma sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Roma semasa kekaisaran Nero.
2. St. Andreas : berkarya di Yunani bagian Utara (Epirus dan Scythia) dan di Patras sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Patras.
3. St. Yakobus bin Zebedeus : berkarya di daerah seputar Yerusalem dan wafat sebagai martir semasa pemerintahan Raja Herodes Agripa (Kis 12:1 – 2).
4. St. Yohanes Penginjil : berkarya di daerah Roma dan Efesus (Asia Kecil). Dia sempat diasingkan ke Pulau Patmos selama setahun atas perintah Kaisar Domitian setelah usaha pembunuhan terhadapnya yang dilakukan atas perintah sang Kaisar mengalami kegagalan.
5. St. Filipus : berkarya di daerah Phrygia sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Hierapolis (Yunani) semasa Kaisar Domitian berkuasa.
6. St. Bartolomeus : berkarya di Etiopia, India, Persia, dan Armenia sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Abanopolis (Tepi Barat Laut Kaspia).
7. St. Thomas Didimus : berkarya di Laut Kaspia, Parthian, Medes, Teluk Persia, dan India sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Kota Madras, India (tempatnya sendiri bernama Carmine).
8. St. Matius : berkarya di Yudea, Etiopia, Persia, dan Parthia sebelum wafat sebagai martir.
9. St. Yudas Tadeus : berkarya di Yudea, Samaria, Idumea, Siria, Beirut, Edessa, Mesopotamia, Persia, dan Libya sebelum wafat sebagai martir di Persia.
10. St. Yakobus bin Alfeus : berkarya di Yerusalem sampai wafat sebagai martir di Yerusalem juga.
11. St. Simon : berkarya di berbagai tempat di Timur Tengah sampai wafat sebagai martir.
Selain pengalaman mereka, tentu masih banyak lagi pengalaman serupa, seperti penolakan, penganiayaan, dan pengasingan yang juga banyak dialami oleh para Kudus Allah lainnya dalam mewartakan Ajaran GerejaNYA.
Pesan yang hendak disampaikan dari pengalaman hidup para Rasul Kristus bagi kita yang sudah menerima Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma tentunya adalah agar di kala kita mengalami berbagai peristiwa pahit dalam mewartakan AjaranNYA, kita hendaknya tidak berputus asa, tetapi mampu tampil sebagai saksi akan Iman Kristiani sebagaimana diamanatkan oleh Para Rasul Kristus dan dirangkum dengan sangat tepat dalam Katekismus Gereja Katholik No. 1316, sebagai berikut :
“Krisma (Penguatan) menyempurnakan rahmat Pembaptisan. Itu adalah Sakramen yang memberi Roh Kudus, supaya mengakarkan kita lebih kuat dalam persekutuan anak – anak Allah, menggabungkan kita lebih erat dengan Kristus, memperkuat hubungan kita dengan Gereja, membuat kita mengambil bagian yang lebih banyak dalam perutusannya dan membantu kita supaya memberi kesaksian iman Kristen dengan perkataan dan perbuatan.”
Barangkali, kita tidak akan pernah wafat sebagai martir seperti perjalanan hidup para RasulNYA, tapi dengan menimba semangat dari para Kudus Allah yang rela wafat demi mewartakan AjaranNYA, setidaknya kita memiliki jaminan akan kehidupan kekal di Surga bagi setiap orang yang hidup dalam persatuan utuh dengan Kristus (1 Kor 15 : 20 – 22) sebagaimana tertulis dalam Katekismus Gereja Katholik No. 655 sebagai berikut :
“ Akhirnya kebangkitan Kristus - dan Kristus yang telah bangkit itu sendiri - adalah sebab dan dasar utama kebangkitan kita yang akan datang: "Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung... Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikianlah semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus" (1 Kor 15:20-22). Selama menantikan pemenuhan ini, Kristus yang telah bangkit hidup dalam hati umat beriman. Dalam Kristus yang telah bangkit, umat Kristen mengecap "karunia-karunia dunia yang akan datang" (Ibr 6:5) dan hidupnya dilindungi Kristus di dalam Allah Bdk. Kol 3:1-3., "supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka" (2 Kor 5:15).”
Semoga...
Senin, 15 Juni 2009
Mewartakan Iman di tengah Badai Kehidupan seturut Teladan Para Rasul dalam GerejaNYA
Oleh : Andi Sardono
Setiap orang pasti pernah mengalami badai dalam kehidupannya, entah itu berupa badai dalam kehidupan rumah tangganya, pertentangan dengan tetangga, konflik dengan rekan sekerja, pertentangan antar suku dan budaya, ketegangan antar etnis, dan beraneka badai lagi yang lainnya. Sebagian ada yang sanggup bertahan sambil terus berjuang mengatasi badai dalam kehidupannya, tapi tak sedikit pula yang tidak kuat mengatasi badai dan berlari menghindari realita yang ada di depan mata, dan beraneka sikap lainnya yang ditunjukkan oleh setiap orang dalam mengatasi permasalahan dalam hidupnya masing – masing.
Menghadapi situasi pelik seperti di atas, tidak jarang kita bertanya, di mana Tuhan ketika kita sedang menghadapi masalah? Ketimbang kita diombang – ambingkan oleh sikap kita sendiri dalam menghadapi badai dalam kehidupan kita, ada baiknya jika kita mau menyempatkan diri sejenak untuk merefleksikan pengalaman hidup sehari – hari kita dengan perjalanan hidup GerejaNYA, terutama pada masa – masa awal perjalanan iman para murid Kristus yang adalah cikal – bakal Gereja Katholik.
Setiap orang pasti pernah mengalami badai dalam kehidupannya, entah itu berupa badai dalam kehidupan rumah tangganya, pertentangan dengan tetangga, konflik dengan rekan sekerja, pertentangan antar suku dan budaya, ketegangan antar etnis, dan beraneka badai lagi yang lainnya. Sebagian ada yang sanggup bertahan sambil terus berjuang mengatasi badai dalam kehidupannya, tapi tak sedikit pula yang tidak kuat mengatasi badai dan berlari menghindari realita yang ada di depan mata, dan beraneka sikap lainnya yang ditunjukkan oleh setiap orang dalam mengatasi permasalahan dalam hidupnya masing – masing.
Menghadapi situasi pelik seperti di atas, tidak jarang kita bertanya, di mana Tuhan ketika kita sedang menghadapi masalah? Ketimbang kita diombang – ambingkan oleh sikap kita sendiri dalam menghadapi badai dalam kehidupan kita, ada baiknya jika kita mau menyempatkan diri sejenak untuk merefleksikan pengalaman hidup sehari – hari kita dengan perjalanan hidup GerejaNYA, terutama pada masa – masa awal perjalanan iman para murid Kristus yang adalah cikal – bakal Gereja Katholik.
Kita mulai dengan mengamati bacaan Injil pada hari Minggu tanggal 21 Juni 2009 yang mengangkat kisah dari Injil St. Markus 4:35 – 41.
Waktu itu, seusai Yesus menyampaikan SabdaNYA kepada setiap orang dengan berbagai perumpamaan dan kemudian menjelaskan makna dari setiap perumpamaan dalam SabdaNYA kepada para muridNYA secara terpisah (Injil St. Markus 4:33 – 34), Yesus mengajak para muridNYA bertolak ke seberang danau dengan menaiki perahu. Ajakan Yesus itu ditanggapi dengan kehendak bebas setiap muridNYA untuk bersikap “ya” dan mengikuti ajakanNYA dengan segera. Banyak orang yang melihat kejadian itu kemudian mengikuti jejak para muridNYA dengan menaiki masing – masing perahu. Rupanya, mengikuti ajakan Yesus itu belum dibarengi dengan sikap untuk mengerti sepenuhnya tentang siapa Dia, Sang Allah Putra yang menjadi manusia dan tinggal di antara mereka, bahkan ada dalam perahu mereka. Ini terlihat ketika perahu yang mereka tumpangi itu dihantam oleh badai taufan yang sangat dahsyat sehingga menyebabkan perahu mereka mulai dipenuhi air semburan ombak yang masuk ke dalam perahu. Para muridNYA begitu panik dan ketakutan akan situasi yang mereka hadapi. Secara spontan, mereka membangunkan Yesus yang sedang tertidur lelap di buritan kapal dengan harapan Dia mau membantu mereka menguras air yang masuk ke dalam perahu mereka saat itu.
Ternyata, gambaran para muridNYA tentang siapa Yesus meleset. Yesus, Sang Allah Putra, segera bertindak menolong para muridNYA dengan caraNYA sendiri. Dengan penuh wibawa dan kuasa, Dia menghardik badai yang mengamuk itu dan seketika danau itu pun berubah menjadi tenang kembali.
Sikap ketakutan yang ditunjukkan oleh para muridNYA kala itu merupakan tanda bahwa pada awal – awal perjalanan iman mereka mengikuti Yesus, mereka masih belum sepenuhnya memiliki iman yang sempurna. Yesus menyadari benar akan situasi iman yang dialami oleh para muridNYA itu, sehingga dengan melakukan mukjizat itu, Dia mengirimkan sebuah pesan yang sangat jelas namun sangat penting untuk kita hayati bersama, yaitu bahwa setiap orang yang menerima kehadiran Allah dalam Diri Yesus dengan sendirinya akan mendapat perlindungan dari Bapa Surgawi.
Situasi sulit yang dialami oleh para muridNYA akhirnya membawa mereka kepada pengalaman baru akan pengenalan yang lebih mendalam lagi tentang Kasih Kristus yang lebih sempurna dari pemahaman mereka sebelumnya.
Santo Paulus dalam suratnya kepada umat Katholik di Korintus dalam 2 Korintus 5:14 – 17 turut bersaksi bahwa sebagai manusia biasa, dia bersama para rasulNYA pada awalnya cenderung menilai Kristus dari pemahaman mereka masing – masing. Namun, karena St. Paulus dan para rasulNYA mengalami Kasih Kristus yang begitu besar dicurahkanNYA kepada mereka, hal itu telah membawa pemahaman baru akan pengenalan Kristus yang lebih sempurna sebagai bekal St. Paulus dan para rasulNYA dalam mewartakan Ajaran Kristus dalam GerejaNYA. Seperti kita ketahui bersama, banyaknya penganiayaan dan kesulitan hidup yang dialami oleh para rasul Kristus sebagai konsekuensi mewartakan iman Katholik yang mereka miliki tentu sedikit banyak menggoyahkan iman mereka, tapi setiap kali pula pengalaman hidup mereka dalam persekutuan bersama sebagai bagian integral dari GerejaNYA dalam Kasih Kristus semakin hari semakin menguatkan diri mereka untuk terus berjalan bersama mewartakan Ajaran GerejaNYA tanpa kenal lelah. Bagi para rasul Kristus, karena pengalaman akan Kasih Kristus begitu besar mereka terima, maka sudah wajar bagi mereka untuk tidak lagi hidup demi kepentingan diri mereka sendiri, melainkan semua hidup mereka ditujukan untuk kemuliaan Allah Tri Tunggal Maha Kudus. Bahkan, tak sedikit pula dari sekian banyak para Kudus Allah yang mengakhiri hidupnya sebagai martir demi membela iman yang mereka wartakan daripada harus jatuh ke dalam dosa dan menyangkal iman mereka untuk mengikuti berbagai isme yang ditawarkan dunia kepada mereka.
Kini, kita semua yang telah mewarisi Iman Katholik, dapat memetik beberapa hal pengalaman hidup para Kudus Allah dalam mewartakan Iman di tengah berbagai kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi sebagaimana terurai di atas, yaitu sebagai berikut :
1. Setiap orang Katholik tidak harus memiliki iman yang sempurna pada awal pengenalan akan Iman Katholik, tetapi Kristus Yesus melalui GerejaNYA menuntut dari kita untuk senantiasa berjuang memahami dan mendalami warisan iman yang kita miliki dari para rasul Kristus sebagaimana diajarkan oleh GerejaNYA.
2. Setiap orang Katholik pasti pernah mengalami badai dalam hidupnya, tapi persatuan utuh dengan Kristus Yesus dalam GerejaNYA yang adalah Tubuh Mistik Kristus akan sanggup memampukan setiap orang untuk mengatasi setiap masalah yang menghampiri kehidupan kita. Hanya dengan persatuan utuh dengan GerejaNYA sebagaimana diteladankan oleh para Kudus Allah, kita akan memperoleh Rahmat dari Allah yang memampukan kita untuk survive atau bertahan hidup di tengah berbagai masalah dalam hidup ini.
3. Mengikuti Kristus Yesus dalam Iman yang Satu, Kudus, Katholik, dan Apostolik memiliki konsekuensi logis untuk turut memikul salib Kristus dengan cara mewartakan Iman sebagaimana diteladankan oleh para Kudus Allah. Tentunya, tidak harus menjadi martir dengan mengorbankan nyawa, tapi setidaknya kita dapat menyumbangkan apa yang kita punya dan kita peroleh dari Allah demi mewartakan Iman kita.
Berkaitan dengan Tahun Imam yang dicanangkan oleh Bapa Suci Paus Benedictus XVI yang dimulai dari tanggal 19 Juni 2009 hingga tanggal 19 Juni 2010, kita (sebagai bagian dari GerejaNYA) juga diharapkan turut mendukung dan mendoakan hidup para Imam yang tertahbis di depan Altar GerejaNYA agar Iman yang Satu, Kudus, Katholik dan Apostolik dapat terus diwartakan ke ujung dunia sampai tiba Kedatangan Kristus Yesus yang kedua kalinya nanti.
Akhirnya, semoga di tengah usaha kita masing – masing (tentunya, dengan dibekali Rahmat dari Allah Tri Tunggal Maha Kudus) dalam mengatasi setiap badai dalam kehidupan kita masing – masing, kita juga dapat turut dan mau mengambil bagian dalam keberlangsungan proses pewartaan Iman dalam GerejaNYA sebagaimana Ajakan Kristus dalam Injil St. Matius 28 : 19.
Jumat, 12 Juni 2009
Sekelumit Kisah Hidup St. Petrus dan St. Paulus
Oleh : Andi Sardono
Email : andisardonossi@yahoo.co.id
URL : http://andisardonossi.blogspot.com
http://andisardonossi.multiply.com
Kalau kita berkesempatan membaca sebuah lagu berjudul “Mari Kita Merenungkan” yang tertera di buku Puji Syukur (maaf, saya lupa nomornya) berkaitan dengan Masa Pra Paskah yang kita lalui beberapa waktu lalu, kita akan melihat sebuah penggalan yang mengecam sikap St. Petrus ketika ia menyangkal sebanyak 3 (tiga) kali tentang keberadaan dirinya sebagai salah satu murid Kristus. Atau, kalau kita berkesempatan berdiskusi dengan saudara – saudara Muslim, pasti salah satu hal yang sering menjadi bahan perdebatan mereka adalah tuduhan bahwa St. Paulus telah mengkorup atau menyelewengkan Ajaran Tuhan, tanpa mereka pernah bisa membuktikan tuduhan itu dengan tanpa salah atau infallible.
Email : andisardonossi@yahoo.co.id
URL : http://andisardonossi.blogspot.com
http://andisardonossi.multiply.com
Kalau kita berkesempatan membaca sebuah lagu berjudul “Mari Kita Merenungkan” yang tertera di buku Puji Syukur (maaf, saya lupa nomornya) berkaitan dengan Masa Pra Paskah yang kita lalui beberapa waktu lalu, kita akan melihat sebuah penggalan yang mengecam sikap St. Petrus ketika ia menyangkal sebanyak 3 (tiga) kali tentang keberadaan dirinya sebagai salah satu murid Kristus. Atau, kalau kita berkesempatan berdiskusi dengan saudara – saudara Muslim, pasti salah satu hal yang sering menjadi bahan perdebatan mereka adalah tuduhan bahwa St. Paulus telah mengkorup atau menyelewengkan Ajaran Tuhan, tanpa mereka pernah bisa membuktikan tuduhan itu dengan tanpa salah atau infallible.
Lantas, siapa dan bagaimana sebenarnya St. Petrus dan St. Paulus? Menyambut Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus yang jatuh pada tanggal 29 Juni 2009, tak ada salahnya kita melihat sekilas sejarah hidup kedua Rasul Kristus yang begitu mengharukan itu.
1. Santo Petrus
Santo Petrus memiliki nama asli yaitu Simon bin Yunus, saudara dari Santo Andreas (salah satu murid Kristus juga) yang lahir di Bethsaida. Kedua bersaudara ini mulanya bekerja sebagai nelayan. Dalam bahasa Aram, Simon dinamakan sebagai Kefas atau dalam bahasa Yunani disebut sebagai Petrus yang artinya adalah batu karang. Oleh Yesus, Santo Petrus dijadikannya sebagai pemimpin para Rasul dan Kepala GerejaNYA yang pertama (Yoh 1:42 dan Mat 16:18).
Santo Petrus memiliki nama asli yaitu Simon bin Yunus, saudara dari Santo Andreas (salah satu murid Kristus juga) yang lahir di Bethsaida. Kedua bersaudara ini mulanya bekerja sebagai nelayan. Dalam bahasa Aram, Simon dinamakan sebagai Kefas atau dalam bahasa Yunani disebut sebagai Petrus yang artinya adalah batu karang. Oleh Yesus, Santo Petrus dijadikannya sebagai pemimpin para Rasul dan Kepala GerejaNYA yang pertama (Yoh 1:42 dan Mat 16:18).
Di antara para RasulNYA, St. Petrus boleh dibilang sangat mencolok popularitasnya. Dalam ke – 4 Injil dan Kisah Para Rasul, namanya disebutkan sebanyak 195 kali, sedangkan gabungan ke – 11 rasul lainnya disebutkan sebanyak 130 kali saja. St. Yohanes Rasul menduduki posisi runner – up karena hanya disebutkan sebanyak 29 kali saja. Dalam ketiga Injil Sinoptik yaitu Injil Matius, Markus, dan Lukas serta Kisah Para Rasul, St. Petrus selalu disebutkan sebagai yang pertama dalam bilangan para RasulNYA. Santo Petrus bersama Santo Yakobus bin Zebedeus dan Santo Yohanes Rasul menjadi saksi atas dibangkitkannya Putri Yairus dari kematian (Mat 5:21 – 43), transfigurasi Yesus Kristus di atas bukit (Mat 17:1 – 8), dan sengsara Yesus Kristus di Taman Getsemani (Mat 26:36 – 46).
Patut dicamkan bersama bahwa walau dikatakan bahwa St. Petrus sempat menyangkal sebanyak 3 (tiga) kali sebagaimana disebutkan di atas, tapi toh akhirnya ia menyesal dan bertobat atas penyangkalan dirinya itu sebagaimana dapat kita baca dalam Injil. Sayangnya, fakta penting ini diabaikan begitu saja oleh beberapa di antara kita dan malah ikut – ikutan menyalahkan St. Petrus tanpa mau melihat keseluruhan hidup dan perjuangan iman St. Petrus dalam mewartakan Ajaran GerejaNYA sebagai Paus Pertama dari GerejaNYA.
Dialah yang pertama kali mewartakan Injil di daerah Yerusalem dan sekitarnya. St. Petrus pula yang mendirikan gereja lokal pertama di Antiokhia, tempat di mana kemudian hari untuk pertama kalinya nama Katholik diperkenalkan dan digunakan sebagaimana kesaksian St. Ignasius dari Antiokhia. Dengan dipimpin oleh St. Petrus, Konsili Gereja Katholik yang pertama diadakan di Yerusalem pada tahun 51 M (Kis Para Rasul 15:7).
Sebagai Paus pertama dan Uskup di Roma, St. Petrus kemudian mendirikan pusat pengajarannya di kota Roma. Di sana, St. Petrus menghabiskan tahun – tahun terakhirnya dengan terus mewartakan Ajaran GerejaNYA sampai akhirnya menjadi martir dengan cara disalibkan dengan posisi terbalik (kepala St. Petrus berada di bawah) pada sekitar tahun 64 atau 67 semasa penindasan umat Katholik oleh Kaisar Nero.
Kita perlu mengingat pula akan sebuah fakta bahwa walau St. Petrus meninggal di Roma sesuai Tradisi GerejaNYA dan catatan sejarah, tapi sebelumnya tidak diketahui di mana letak makamnya secara tepat. Ini bermula pada tahun 315 di mana Kaisar Konstantinus (kaisar Romawi) yang bersikap baik terhadap umat Katholik, mendirikan sebuah bangunan gereja.
Pembangunan itu berlanjut dengan dibangunnya sebuah basilika (gereja berukuran raksasa) yang tepat didirikan di atas bangunan gereja tersebut dan ini berlanjut terus dengan didirikannya pondasi bangunan yang baru sampai akhirnya menjadi Basilika St. Petrus, Vatikan, seperti yang kita kenal sekarang ini. Sepanjang masa itu, pengetahuan akan letak makam St. Petrus menghilang dari sejarah sampai akhirnya pada tahun 1939 terjadi sebuah kecelakaan yang menimpa seorang pekerja bangunan. Kejadian itu mengawali penemuan di tahun 1958 akan sebuah makam yang diketahui adalah makam St. Petrus yang terletak di salah satu katakombe, persisnya di bawah altar yang terletak tepat di bawah kubah St. Petrus. Pada makam itu tertera sebuah ukiran tulisan yang berbunyi :”Petrus berbaring di dalam sini”. Sudah pasti, kalimat itu segera mengingatkan kita akan kata – kata Yesus sendiri dalam Mat 16:18 yang mendapat dimensi tambahan makna yang memberi bukti bahwa Gereja Katholik adalah satu – satunya Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri.
St. Petrus sering dilukiskan sedang membawa 2 (dua) buah kunci yang adalah simbol kekuasaannya dalam GerejaNYA. Atau, terkadang juga dilukiskan St. Petrus sedang membawa 2 (dua) kunci bersilangan dan sebuah salib yang diposisikan terbalik (mengingat posisi penyalibannya yang terbalik).
2. Santo Paulus
Mulanya, nama dari Santo Paulus adalah Saulus, seorang warga negara Roma yang berasal dari keturunan suku Benyamin (salah satu suku di Israel) dan lahir di Tarsus. Saulus pada awalnya ikut mengambil bagian dalam penindasan umat Katholik sampai pada akhirnya ia mengalami pertobatan yang mukjizat setelah mendapat panggilan secara khusus dari Tuhan Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik (sekarang Damaskus yang terletak di Siria) seperti diceritakan dalam Kisah Para Rasul 9:1 – 18. St. Pauius kemudian menjadi rasul yang pantang menyerah dalam mewartakan Injil di kalangan non Yahudi.
Mulanya, nama dari Santo Paulus adalah Saulus, seorang warga negara Roma yang berasal dari keturunan suku Benyamin (salah satu suku di Israel) dan lahir di Tarsus. Saulus pada awalnya ikut mengambil bagian dalam penindasan umat Katholik sampai pada akhirnya ia mengalami pertobatan yang mukjizat setelah mendapat panggilan secara khusus dari Tuhan Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik (sekarang Damaskus yang terletak di Siria) seperti diceritakan dalam Kisah Para Rasul 9:1 – 18. St. Pauius kemudian menjadi rasul yang pantang menyerah dalam mewartakan Injil di kalangan non Yahudi.
St. Paulus tetap tinggal di Damaskus untuk beberapa hari setelah pembaptisannya dan pergi ke tanah Arab selama 1 – 2 tahun untuk mempersiapkan aktivitas merasulnya. Sekembalinya ke Damaskus, St. Paulus tinggal agak lama dan mulai berkhotbah mewartakan Injil di sinagoga – sinagoga. Tentu saja, aktivitasnya itu segera menyulut kebencian di kalangan Yahudi sehingga terpaksa St.Paulus segera menyingkir dari sana.
Ketaatan St. Paulus kepada St. Petrus sebagai Paus Pertama GerejaNYA ditunjukkannya dengan kepergiannya ke Yerusalem untuk bersilaturahmi dengan St. Petrus. Ini sekaligus menjawab tuduhan tak berdasar yang mengatakan bahwa St. Paulus menyelewengkan Ajaran Tuhan. Dengan sikap ketaatannya itu, St. Paulus membiarkan dirinya dibimbing oleh Roh Kudus menuju ke persatuan utuh dengan GerejaNYA yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Lalu, bersama dengan St. Barnabas, dia melakukan perjalanan misionarisnya yang pertama dan mendirikan gereja – gereja di seluruh Asia Kecil yaitu wilayah Pisidian, Antiokhia, Iconium, Lystra, dan Derbe.
Setelah berlangsungnya Konsili Yerusalem, Paulus ditemani oleh Silas, lalu bergantian dengan St. Timotius dan St. Lukas melakukan perjalanan misionaris keduanya. Pada perjalanannya yang ketiga kalinya, St. Paulus mengunjungi tempat – tempat yang sama dan sempat tinggal di Efesus selama sekitar 3 (tiga) tahun. St. Paulus banyak mengalami penangkapan dan pemenjaraan, di antaranya yaitu ditangkap di Yerusalem (Kisah Para Rasul 21:30), dipenjarakan di Kaisarea (Kisah Para Rasul 23:23 – 24), dan dipenjarakan selama 2 (dua) tahun di kota Roma.
Penderitaan St.Paulus belum berakhir. Menurut Tradisi Suci, setelah 2 (dua) tahun dipenjara di kota Roma, St. Paulus dibebaskan dan melanjutkan karya misinya ke Spanyol dan Timur. Sekembalinya ke kota Roma, St. Paulus dipenjarakan untuk kedua kalinya. Di kota ini pula, St. Paulus akhirnya wafat sebagai martir dengan cara dipenggal kepalanya di luar tembok – tembok kota pada sekitar tahun 67 selama penindasan oleh Kaisar Nero. Tempat pemenggalan kepalanya dikenal dengan nama Tre Fountane atau Three Fountains yang berarti “tiga mata air” karena kemunculan tiga mata air secara mukjizat di tempat kepalanya jatuh ke bumi. Salah satu karyanya yang paling fenomenal adalah kurang lebih 14 surat yang ditulisnya dalam Perjanjian Baru, tapi tidak tertutup kemungkinan malah lebih banyak lagi surat – surat St. Paulus yang telah hilang.
St. Paulus sering dilukiskan secara bermacam – macam, antara lain bersama – sama dengan St. Petrus, yang di antaranya terdapat sebilah pedang dalam adegan pertobatannya. Lambangnya adalah sebilah pedang di belakang sebuah buku terbuka yang bertuliskan “Spiritus Gladius” yang berarti Pedang Roh.
Kini, kita telah melihat sekelumit kisah hidup mereka berdua. Semoga kita dapat belajar banyak dari teladan hidup kedua Rasul Kristus itu tentang bagaimana menjadi saksi kebenaran Ajaran GerejaNYA di tengah tantangan dunia yang banyak diselimuti oleh aneka isme dalam kehidupan kita sekarang ini.
Selasa, 02 Juni 2009
Menghayati Tubuh dan Darah Kristus sebagai Karunia yang Sangat Berharga
Oleh : Andi Sardono
Jika kita berkesempatan berdiskusi dengan saudara – saudara kita dari kalangan Protestan, maka salah satu hal yang paling sering dipertanyakan kepada kita adalah tentang peristiwa transsubstansiasi atau peristiwa perubahan hakiki dalam hal substansi dari roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Penggunaan istilah transsubstansiasi sendiri diperkenalkan dalam Konsili Lateran IV pada tahun 1215 dan dan dipertegas lagi oleh Bapa Suci kita dalam Ecclesia de Eucharistia seperti akan dibahas dalam tulisan ini.
Beberapa pandangan sesat tentang transsubstansiasi berasal dari beberapa denominasi Protestan seperti misalnya :
1. Denominasi Zwingli dan Calvin yang percaya bahwa Kristus hadir hanya dalam lambang roti dan anggur.
2. Denominasi Luther percaya akan kon – subtansiasi di mana Ekaristi adalah sekaligus tubuh dan darah, anggur dan roti.
3. Denominasi Melancthon percaya bahwa Ekaristi kembali menjadi roti dan anggur sesudah komuni.
Terdorong akan fenomena di atas, maka GerejaNYA mengeluarkan ensiklik berjudul “Ecclesia de Eucharistia” yang berarti “Ekaristi dan Hubungannya dengan Gereja” dan mengadakan Konsili Trente pada tahun 1551 untuk menanggapi pandangan sesat di atas. Dalam salah satu Dekrit Trente yaitu Ajaran tentang Kurban Misa Kudus dinyatakan bahwa : “ dalam Sakramen Ekaristi Maha Kudus, setelah konsekrasi roti dan anggur, Tuhan kita Yesus Kristus, sungguh Allah dan sungguh manusia secara nyata, sungguh benar, dan pada intinya hadir dalam rupa realitas yang kelihatan itu. Tidak ada pertentangan dengan kenyataan bahwa Juru Selamat kita senantiasa duduk di sebelah kanan Bapa di Surga menurut kodrat keberadaanNYA, dan bahwa, meskipun demikian, dalam substansiNYA, Dia hadir secara sakramental bagi kita di banyak tempat lain juga.”
Beberapa point penting yang dapat kita petik dari ensiklik “Ecclesia de Eucharistia” adalah sebagai berikut :
1. “ Pada setiap perayaan Ekaristi, kita dibawa kembali kepada Trihari Paskah : kepada Peristiwa malam hari Kamis Putih, kepada Perjamuan Terakhir dan kepada apa yang menyusulnya. Dasar Ekaristi mendahului secara sakramental peristiwa yang bakal terjadi, dimulai dari Sakrat Getsemani. ” (Ensiklik No. 3).
2. “ Merenungkan Kristus berarti mampu mengenaliNYA di mana pun Ia nampak, dalam pelbagai wujud, tetapi terutama dalam Sakramen hidup dari Tubuh dan DarahNYA. Gereja hidup dari Kristus Ekaristi, disuapi olehNYA, dan beroleh kecemerlangan dariNYA. Ekaristi adalah sekaligus misteri Iman dan misteri Terang. Setiap kali Gereja merayakan Ekaristi, maka dalam salah satu cara umat dapat merasakan kembali pengalaman kedua murid yang berjalan ke Emaus – “Mata mereka terbuka dan mengenali Dia.” (Ensiklik No. 6).
3. “ Peristiwa perubahan hakiki dalam hal substansi dari roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dinamakan sebagai Peristiwa Transsubstansiasi. Sehingga wujud, rasa, dan bau roti dan anggur tetap sama atau tidak berubah dalam karakteristiknya, tetapi substansinya berubah, yaitu menjadi Tubuh dan DarahNYA. ” (Ensiklik No. 15).
Selain beberapa point di atas, sangat patut kalau kita merenungkan juga keseluruhan misteri yang diabadikan dalam Ekaristi Kudus dan kurban Kudus Misa sebagaimana ditampilkanNYA dalam Perjamuan Terakhir, yaitu bahwa Yesus tidak hanya sekedar memberikan roti dan anggur yang telah diberkatiNYA kepada para rasulNYA. Lebih dari itu, Kristus Yesus memberikan diriNYA seutuhnya (yaitu Tubuh, Darah, Jiwa, dan Ke – Allah – anNYA) kepada umat manusia yang dicintaiNYA.
Setelah usai dengan Perjamuan Terakhir sebagaimana kita ikuti pada malam Kamis Putih, keesokan harinya, Yesus sudah tergantung di atas kayu salib seperti kita ikuti pada Perayaan Jumat Agung dan darahNYA yang mengucur deras dari kayu salib dicurahkanNYA dengan sehabis – habisnya untuk menghapus dosa – dosa kita.
Sungguh mengagumkan. Kristus Yesus sebagai PutraNYA menunjukkan cinta Bapa kepada manusia dengan mempersembahkan kurban penghapus dosa yang sempurna, yang tidak lain adalah DiriNYA sendiri sebagai kurban dimaksud. Patut pula kita ketahui bahwa kurban Kristus adalah kurban yang memberikan hidup yang kemudian menjadi perjanjian yang sempurna dan kekal atas hidup dan cinta dengan Allah yang dimeteraikan oleh Kristus Yesus, Tuhan kita.
Begitu agung dan luhurnya warisan Kristus itu sehingga tidak berlebihan jika GerejaNYA selalu mengagungkan harta pusaka ini sebagaimana terwujud dalam setiap Perayaan Ekaristi.
Di samping uraian dari ensiklik di atas, keyakinan kita akan Ekaristi Kudus juga berakar dari pernyataan Kristus sendiri sebagaimana tertulis dalam Injil St. Yohanes 6:51.53 – 57 : “ Akulah roti hidup yang telah turun dari Surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama – lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNYA, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab, dagingKu adalah benar – benar makanan dan darahKu adalah benar – benar minuman. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.”
Kini, sudah selayaknya jika kita berdoa memohon rahmat kepadaNYA agar kita beroleh percaya lebih teguh setiap hari akan karunia Kristus sendiri yang amat berharga ini.
Jika kita berkesempatan berdiskusi dengan saudara – saudara kita dari kalangan Protestan, maka salah satu hal yang paling sering dipertanyakan kepada kita adalah tentang peristiwa transsubstansiasi atau peristiwa perubahan hakiki dalam hal substansi dari roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Penggunaan istilah transsubstansiasi sendiri diperkenalkan dalam Konsili Lateran IV pada tahun 1215 dan dan dipertegas lagi oleh Bapa Suci kita dalam Ecclesia de Eucharistia seperti akan dibahas dalam tulisan ini.
Beberapa pandangan sesat tentang transsubstansiasi berasal dari beberapa denominasi Protestan seperti misalnya :
1. Denominasi Zwingli dan Calvin yang percaya bahwa Kristus hadir hanya dalam lambang roti dan anggur.
2. Denominasi Luther percaya akan kon – subtansiasi di mana Ekaristi adalah sekaligus tubuh dan darah, anggur dan roti.
3. Denominasi Melancthon percaya bahwa Ekaristi kembali menjadi roti dan anggur sesudah komuni.
Terdorong akan fenomena di atas, maka GerejaNYA mengeluarkan ensiklik berjudul “Ecclesia de Eucharistia” yang berarti “Ekaristi dan Hubungannya dengan Gereja” dan mengadakan Konsili Trente pada tahun 1551 untuk menanggapi pandangan sesat di atas. Dalam salah satu Dekrit Trente yaitu Ajaran tentang Kurban Misa Kudus dinyatakan bahwa : “ dalam Sakramen Ekaristi Maha Kudus, setelah konsekrasi roti dan anggur, Tuhan kita Yesus Kristus, sungguh Allah dan sungguh manusia secara nyata, sungguh benar, dan pada intinya hadir dalam rupa realitas yang kelihatan itu. Tidak ada pertentangan dengan kenyataan bahwa Juru Selamat kita senantiasa duduk di sebelah kanan Bapa di Surga menurut kodrat keberadaanNYA, dan bahwa, meskipun demikian, dalam substansiNYA, Dia hadir secara sakramental bagi kita di banyak tempat lain juga.”
Beberapa point penting yang dapat kita petik dari ensiklik “Ecclesia de Eucharistia” adalah sebagai berikut :
1. “ Pada setiap perayaan Ekaristi, kita dibawa kembali kepada Trihari Paskah : kepada Peristiwa malam hari Kamis Putih, kepada Perjamuan Terakhir dan kepada apa yang menyusulnya. Dasar Ekaristi mendahului secara sakramental peristiwa yang bakal terjadi, dimulai dari Sakrat Getsemani. ” (Ensiklik No. 3).
2. “ Merenungkan Kristus berarti mampu mengenaliNYA di mana pun Ia nampak, dalam pelbagai wujud, tetapi terutama dalam Sakramen hidup dari Tubuh dan DarahNYA. Gereja hidup dari Kristus Ekaristi, disuapi olehNYA, dan beroleh kecemerlangan dariNYA. Ekaristi adalah sekaligus misteri Iman dan misteri Terang. Setiap kali Gereja merayakan Ekaristi, maka dalam salah satu cara umat dapat merasakan kembali pengalaman kedua murid yang berjalan ke Emaus – “Mata mereka terbuka dan mengenali Dia.” (Ensiklik No. 6).
3. “ Peristiwa perubahan hakiki dalam hal substansi dari roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dinamakan sebagai Peristiwa Transsubstansiasi. Sehingga wujud, rasa, dan bau roti dan anggur tetap sama atau tidak berubah dalam karakteristiknya, tetapi substansinya berubah, yaitu menjadi Tubuh dan DarahNYA. ” (Ensiklik No. 15).
Selain beberapa point di atas, sangat patut kalau kita merenungkan juga keseluruhan misteri yang diabadikan dalam Ekaristi Kudus dan kurban Kudus Misa sebagaimana ditampilkanNYA dalam Perjamuan Terakhir, yaitu bahwa Yesus tidak hanya sekedar memberikan roti dan anggur yang telah diberkatiNYA kepada para rasulNYA. Lebih dari itu, Kristus Yesus memberikan diriNYA seutuhnya (yaitu Tubuh, Darah, Jiwa, dan Ke – Allah – anNYA) kepada umat manusia yang dicintaiNYA.
Setelah usai dengan Perjamuan Terakhir sebagaimana kita ikuti pada malam Kamis Putih, keesokan harinya, Yesus sudah tergantung di atas kayu salib seperti kita ikuti pada Perayaan Jumat Agung dan darahNYA yang mengucur deras dari kayu salib dicurahkanNYA dengan sehabis – habisnya untuk menghapus dosa – dosa kita.
Sungguh mengagumkan. Kristus Yesus sebagai PutraNYA menunjukkan cinta Bapa kepada manusia dengan mempersembahkan kurban penghapus dosa yang sempurna, yang tidak lain adalah DiriNYA sendiri sebagai kurban dimaksud. Patut pula kita ketahui bahwa kurban Kristus adalah kurban yang memberikan hidup yang kemudian menjadi perjanjian yang sempurna dan kekal atas hidup dan cinta dengan Allah yang dimeteraikan oleh Kristus Yesus, Tuhan kita.
Begitu agung dan luhurnya warisan Kristus itu sehingga tidak berlebihan jika GerejaNYA selalu mengagungkan harta pusaka ini sebagaimana terwujud dalam setiap Perayaan Ekaristi.
Di samping uraian dari ensiklik di atas, keyakinan kita akan Ekaristi Kudus juga berakar dari pernyataan Kristus sendiri sebagaimana tertulis dalam Injil St. Yohanes 6:51.53 – 57 : “ Akulah roti hidup yang telah turun dari Surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama – lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNYA, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab, dagingKu adalah benar – benar makanan dan darahKu adalah benar – benar minuman. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.”
Kini, sudah selayaknya jika kita berdoa memohon rahmat kepadaNYA agar kita beroleh percaya lebih teguh setiap hari akan karunia Kristus sendiri yang amat berharga ini.
Rabu, 27 Mei 2009
Memahami Allah Tri Tunggal Maha Kudus dalam Relasi Cinta Sejati
Oleh : Andi Sardono
Di antara sekian banyak banyak Ajaran GerejaNYA yang kita imani, ada satu di antaranya yang paling sulit untuk dipahami oleh akal pikiran manusia, yaitu Ajaran tentang Allah Tri Tunggal Maha Kudus atau Allah Trinitas yang pada tanggal 7 Juni 2009 dirayakan oleh GerejaNYA.
Di antara sekian banyak banyak Ajaran GerejaNYA yang kita imani, ada satu di antaranya yang paling sulit untuk dipahami oleh akal pikiran manusia, yaitu Ajaran tentang Allah Tri Tunggal Maha Kudus atau Allah Trinitas yang pada tanggal 7 Juni 2009 dirayakan oleh GerejaNYA.
Namun, kita dapat merefleksikan hidup beriman kita dari pengalaman cinta sejati yang ditunjukkan Allah dalam relasi Trinitas itu. Pertama kita lihat melalui pewahyuan adanya Trinitas sebagaimana ditulis dalam Injil Matius 3:16 – 17 dan Injil Yohanes 1:32 – 34. Di situ dikisahkan bahwa sebelum memulai karya perutusanNYA sebagai Putra Allah, Yesus Kristus menggenapi apa yang tertulis dalam kitab para nabi sebelumnya tentang Dia dengan meminta St. Yohanes Pembaptis untuk membaptis DiriNYA di sungai Yordan. Peristiwa tersebut membuka jalan bagi Allah untuk mewahyukan adanya Trinitas. Bapa menyatakan cintaNYA kepada PutraNYA dengan mengutus Roh Kudus untuk menyertai PutraNYA selama menjalankan karya penyelamatan yang agung nan mulia itu.
Kesatuan Trinitas dalam peranannya untuk menghibur manusia selanjutnya diungkapkan pula oleh Yesus Kristus sebagaimana ditulis dalam Injil Yohanes 14:26.
Mengagumkan, relasi cinta sejati yang ditunjukkan oleh Allah itu kemudian diwartakan oleh Yesus sebagai PutraNYA dengan meminta para muridNYA untuk pergi ke seluruh dunia dan menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus dengan membaptis para bangsa dalam Nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebagaimana dapat kita baca dalam Injil Matius 28:19.
Tugas perutusan yang dijalankan oleh Yesus dari BapaNYA dengan penyertaan Roh Kudus kemudian menjadi Warta Kebenaran yang disebarluaskan oleh para muridNYA sebagai perpanjangan tangan Tiga Pribadi Ilahi yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Selanjutnya, relasi Trinitas yang diwartakan oleh para muridNYA itu menjadi dasar cinta yang menyelamatkan dunia.
Sebagai salah satu bentuk penghayatan dan perenungan kita akan cinta Trinitas yang menyelamatkan dunia itu, kita dapat melihatnya pada hakekat Bapa yang tetap setia kepada manusia yang berdosa seperti kesaksian dalam Injil Yoh 1:1 – 18.
Sedemikian besar dosa manusia yang telah menyebabkan manusia terpuruk jatuh dan menjauh dari relasi cinta Allah terhadap manusia, ciptaanNYA yang sangat dicintaiNYA itu, sehingga jika Ia berkenan, bisa saja Bapa memusnahkan manusia dari kehidupan di muka bumi ini. Namun, dosa manusia yang sedemikian besar itu ternyata tidak mampu mengalahkan cinta Bapa kepada manusia. Ya, cinta Bapa kepada manusia ternyata lebih besar dari dosa manusia sehingga Bapa kemudian lebih memilih untuk menyelamatkan manusia daripada memusnahkannya. Cinta Bapa yang sangat besar itu kemudian dijalankan oleh PutraNYA dengan menyerahkan diriNYA sebagai korban penyelamatan untuk menggantikan peran manusia yang berdosa dan layak dihukum itu.
Pengorbanan Kristus itu telah menghantar manusia untuk sampai pada kediaman abadi di dalam Kerajaan Allah sebagaimana dijanjikan Kristus Yesus dalam amanat perpisahanNYA sebelum Ia naik ke surga. Tidak hanya itu, Ia pun menjanjikan Roh Kudus yang akan menyertai GerejaNYA dalam menjalankan tugas pewartaan yang diemban Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus Yesus. Kita lihat selanjutnya bahwa kabar sukacita yang membahagiakan itu kemudian menjadi kenyataan dengan karya Roh Kudus dalam GerejaNYA melalui kesaksian iman para putra – putri GerejaNYA.
Kesaksian iman akan cinta sejati dalam relasi Trinitas yang diajarkan oleh GerejaNYA secara terus – menerus dan berkesinambungan itu mempunyai satu tujuan yang sama, yaitu memanggil manusia untuk hidup dalam kesatuan iman yang Satu, Kudus, Katholik, dan Apostolik, kembali kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Tugas pemanggilan kembali itu jika renungkan dengan sungguh – sungguh ternyata hanya terjadi dalam lingkungan Gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus karena Gereja merupakan bentuk pengungkapan paling konkret dari iman akan Trinitas. Tentunya, Gereja yang dimaksud adalah Gereja yang dibangun oleh Yesus Kristus di atas St. Petrus sebagai batu karang yang hidup yang adalah juga Paus Pertama dalam sejarah Gereja Katholik.
Dan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, untuk menjamin keberlangsungan karya pewartaan yang dijalankan oleh GerejaNYA, Roh Kudus turut berkarya dalam GerejaNYA sehingga setiap orang yang tetap tekun berjuang dan setia mengimani Ajaran Allah dalam GerejaNYA sampai pada kesudahannya akan dijamin keselamatannya oleh Allah sendiri sebagaimana kesaksian hidup para martir dan para Kudus Allah yang rela menyerahkan hidupnya demi membela dan mempertahankan iman Katholik yang mereka yakini itu.
Sebagai anggota dari kawanan domba yang tergabung dalam GerejaNYA, kita yang telah dibaptis dengan menggunakan Nama Tri Tunggal Maha Kudus, selanjutnya masing – masing memikul beban salib untuk menjalankan tugas pewartaan kita sesuai bidang kehidupan kita masing – masing dengan meneladan relasi cinta sejati Allah Tri Tunggal Yang Maha Kudus.
Akhirnya, semoga perayaan Allah Tri Tunggal Maha Kudus dalam GerejaNYA semakin mendekatkan diri kita masing – masing pada keakraban yang lebih mendalam dan intim lagi dengan Ketiga Pribadi dalam Satu Hakekat yaitu : Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Selasa, 19 Mei 2009
Pater Noster
Oleh : Andi Sardono
In nomine Patris et Filli et Spiritu Sancti, amen.
Pater noster qui es in caelis,
Sancti ficetur nomen tuum,
Ad veni at regnum tuum,
Fiat voluntas tua,
Sicut in caelo et in terra,
Panem nostrum cotidianum da nobis hodie,
Et dimite nobis de bita nostra,
Sicut et nos dimitimus,
De bitoribus nostris,
Et ne nos in ducas in tentationem,
Sed liberanos amalo,
Quia tuum es regnum,
Et potestas,
Et gloria in saecula,
Amen.
In nomine Patris et Filli et Spiritu Sancti, amen.
In nomine Patris et Filli et Spiritu Sancti, amen.
Pater noster qui es in caelis,
Sancti ficetur nomen tuum,
Ad veni at regnum tuum,
Fiat voluntas tua,
Sicut in caelo et in terra,
Panem nostrum cotidianum da nobis hodie,
Et dimite nobis de bita nostra,
Sicut et nos dimitimus,
De bitoribus nostris,
Et ne nos in ducas in tentationem,
Sed liberanos amalo,
Quia tuum es regnum,
Et potestas,
Et gloria in saecula,
Amen.
In nomine Patris et Filli et Spiritu Sancti, amen.
Senin, 18 Mei 2009
Mengenal Roh Kudus dalam GerejaNYA
Oleh : Andi Sardono
Beberapa hari lagi, Gereja Katholik akan merayakan Pesta Pentakosta, yaitu peristiwa turunnya Allah Roh Kudus ke atas para RasulNya yang adalah cikal bakal Gereja Katolik sebagaimana dijanjikan Tuhan Yesus Kristus sebelum Dia naik ke Surga. Oleh karenanya, tidak berlebihan kiranya jika peristiwa Pentakosta dikatakan juga sebagai hari lahir GerejaNya yang satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.
Sebagai warga Gereja, apa makna Pentakosta bagi kehidupan kita sehari – hari? Tidak lain dan tak bukan, turunnya Roh Kudus ke atas para RasulNya menjadi bermakna ketika kita sungguh – sungguh hidup dalam persatuan utuh dengan Yesus Kristus (yang sekaligus adalah Kepala Gereja) dalam doa, Ekaristi, dan karya nyata, sebagaimana diteladankan oleh para RasulNya dan Bunda Maria sebagai Bunda Gereja dalam persatuan utuh dengan Kristus Yesus.
Karya nyata Roh Kudus dalam Gereja Katholik sendiri sungguh terasa, setidaknya ini terbukti dengan tetap berdiri kokohnya Gereja Kaholik selama kurang lebih 2009 tahun lamanya. Tidak seperti denominasi dalam Protestan yang mudah sekali terpecah belah, Gereja Katholik tetap berdiri kokoh karena Allah Roh Kudus selalu menjaga dan menyucikan GerejaNya yang dibangun di atas batu karang ini.
Berkaitan dengan karya Roh Kudus dalam GerejaNya, ada beberapa istilah yang kemudian muncul tapi sering disalahartikan. Berikut adalah penjelasannya :
1. Kharisma
Kata “kharisma” sendiri berarti : karunia / anugerah Roh Kudus. Tapi, tidak semua rahmat Roh Kudus dapat disebut sebagai kharisma. Sebagai suatu rahmat istimewa yang menonjol pada diri seseorang yang memilikinya, kharisma tidak ditampilkan sebagai pameran rahmat, tapi semata – mata pemberian Tuhan bagi orang yang dipilihNya demi pembangunan atau pengembangan GerejaNya, sebagaimana yang tertulis dalam 1 Kor 12:7. Jadi, kharisma diberikan oleh Allah sebagai anugerah khusus untuk menjalankan suatu tugas dengan baik di dalam GerejaNya.
Dengan kata lain, kharisma adalah anugerah iman yang bersifat amat pribadi dan tidak bisa dimiliki oleh setiap orang. Perlu diingat pula bahwa pemberian khusus dari Tuhan bersifat bebas tanpa terikat oleh jasa dari pihak manusia karena memang Allah tidak dapat dipaksa untuk memberi suatu anugerah, seperti misalnya kharisma berbahasa Roh. Tidak bisa pula digelar semacam seminar untuk memaksa Allah memberi kharisma bahasa Roh.
2. Bahasa Roh
Berbahasa Roh berarti berbicara langsung di bawah pengaruh roh, oleh karenanya seringkali tidak mempergunakan kata – kata biasa yang dimengerti oleh orang lain. Walaupun demikian, berbahasa Roh tetap harus dapat diterjemahkan oleh orang yang bersangkutan atau minimal oleh orang lain yang dianugerahi Allah untuk mampu menerjemahkan makna dari bahasa Roh itu sendiri. Hal ini ditegaskan dengan sangat jelas oleh Santo Paulus dalam suratnya kepada umat Katholik di Korintus. Bahkan, meskipun bersyukur karena mendapat anugerah berbahasa Roh, Santo Paulus tidak suka menggunakannya karena tidak bermanfaat bagi orang lain, terutama dalam kaitannya dengan pertemuan – pertemuan jemaat, misalnya dalam Misa, pertemuan ibadah di lingkungan, wilayah, atau kelompok – kelompok kategorial dalam Gereja, seperti dinyatakannya dalam 1 Kor 14:18-19.
Sebagai salah satu kharisma yang diberikan oleh Allah, tentu tujuan berbahasa roh adalah untuk menolong orang lain dan pasti akan mendorong orang yang dianugerahi berbahasa roh itu untuk semakin menyatakan imannya dalam kesatuan utuh dan kerukunan dengan orang – orang beriman dalam GerejaNya dan dengan ketaatan penuh pada pimpinan Gereja atau Hierarki.
Kalau yang terjadi adalah setelah berbahasa Roh orang malah menghujat GerejaNya, maka sudah pasti itu merupakan suatu praktek penyimpangan dari kehidupan iman GerejaNya atau praktek melarikan diri dari realitas kehidupan GerejaNya.
3. Pembedaan Roh
Pembedaan Roh berarti menguji karya roh dalam hati sendiri; bukannya suatu bentuk ketaatan kepada roh saja, tapi juga merupakan bentuk pelibatan diri dalam pembangunan GerejaNya. Kita sering mendengar istilah “prioritas”, karena memang banyak hal yang harus dilakukan sehingga setiap orang harus menentukan mana yang lebih penting, lebih berguna dan terutama lebih sesuai dengan KehendakNYA. Dalam kenyataannya, praktek membedakan roh sudah lazim dilaksanakan orang dari zaman dulu, hanya saja istilahnya semakin popular digunakan.
4. Pencurahan Roh
Pencurahan roh berarti bahwa segala doa permohonan disampaikan kepada Allah agar berkat Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma, hidup kita semakin digairahkan dan dipenuhi dengan kekuasaan Roh Kudus, jadi bukan praktek pencurahan Roh Kudus melalui penumpangan tangan yang dipimpin oleh seorang pemimpin ibadat diikuti oleh segenap umat yang hadir lalu diikuti oleh penggunaan berbahasa roh secara serampangan. Kalau itu yang terjadi, maka itu adalah salah satu bentuk sakrilegi atau penghujatan atas karya Roh Kudus dalam GerejaNYA.
Melalui Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma, setiap orang beriman Katolik menerima Roh Kudus dalam hati kita, sehingga jika tidak berhati – hati, penggunaan istilah pencurahan roh dapat mengaburkan makna Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma.
Dalam Konsili Vatikan II ditegaskan pula bahwa kita diharapkan terbuka akan karya Roh Kudus dan segala karunia – NYA, untuk kemudian mau melayani Gereja dengan penuh kasih tanpa pamrih, taat pada hierarki, serta memelihara kesatuan dan kerukunan dengan semua umat beriman dalam GerejaNYA yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Selamat merayakan Pentakosta bagi kita semua.
Beberapa hari lagi, Gereja Katholik akan merayakan Pesta Pentakosta, yaitu peristiwa turunnya Allah Roh Kudus ke atas para RasulNya yang adalah cikal bakal Gereja Katolik sebagaimana dijanjikan Tuhan Yesus Kristus sebelum Dia naik ke Surga. Oleh karenanya, tidak berlebihan kiranya jika peristiwa Pentakosta dikatakan juga sebagai hari lahir GerejaNya yang satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.
Sebagai warga Gereja, apa makna Pentakosta bagi kehidupan kita sehari – hari? Tidak lain dan tak bukan, turunnya Roh Kudus ke atas para RasulNya menjadi bermakna ketika kita sungguh – sungguh hidup dalam persatuan utuh dengan Yesus Kristus (yang sekaligus adalah Kepala Gereja) dalam doa, Ekaristi, dan karya nyata, sebagaimana diteladankan oleh para RasulNya dan Bunda Maria sebagai Bunda Gereja dalam persatuan utuh dengan Kristus Yesus.
Karya nyata Roh Kudus dalam Gereja Katholik sendiri sungguh terasa, setidaknya ini terbukti dengan tetap berdiri kokohnya Gereja Kaholik selama kurang lebih 2009 tahun lamanya. Tidak seperti denominasi dalam Protestan yang mudah sekali terpecah belah, Gereja Katholik tetap berdiri kokoh karena Allah Roh Kudus selalu menjaga dan menyucikan GerejaNya yang dibangun di atas batu karang ini.
Berkaitan dengan karya Roh Kudus dalam GerejaNya, ada beberapa istilah yang kemudian muncul tapi sering disalahartikan. Berikut adalah penjelasannya :
1. Kharisma
Kata “kharisma” sendiri berarti : karunia / anugerah Roh Kudus. Tapi, tidak semua rahmat Roh Kudus dapat disebut sebagai kharisma. Sebagai suatu rahmat istimewa yang menonjol pada diri seseorang yang memilikinya, kharisma tidak ditampilkan sebagai pameran rahmat, tapi semata – mata pemberian Tuhan bagi orang yang dipilihNya demi pembangunan atau pengembangan GerejaNya, sebagaimana yang tertulis dalam 1 Kor 12:7. Jadi, kharisma diberikan oleh Allah sebagai anugerah khusus untuk menjalankan suatu tugas dengan baik di dalam GerejaNya.
Dengan kata lain, kharisma adalah anugerah iman yang bersifat amat pribadi dan tidak bisa dimiliki oleh setiap orang. Perlu diingat pula bahwa pemberian khusus dari Tuhan bersifat bebas tanpa terikat oleh jasa dari pihak manusia karena memang Allah tidak dapat dipaksa untuk memberi suatu anugerah, seperti misalnya kharisma berbahasa Roh. Tidak bisa pula digelar semacam seminar untuk memaksa Allah memberi kharisma bahasa Roh.
2. Bahasa Roh
Berbahasa Roh berarti berbicara langsung di bawah pengaruh roh, oleh karenanya seringkali tidak mempergunakan kata – kata biasa yang dimengerti oleh orang lain. Walaupun demikian, berbahasa Roh tetap harus dapat diterjemahkan oleh orang yang bersangkutan atau minimal oleh orang lain yang dianugerahi Allah untuk mampu menerjemahkan makna dari bahasa Roh itu sendiri. Hal ini ditegaskan dengan sangat jelas oleh Santo Paulus dalam suratnya kepada umat Katholik di Korintus. Bahkan, meskipun bersyukur karena mendapat anugerah berbahasa Roh, Santo Paulus tidak suka menggunakannya karena tidak bermanfaat bagi orang lain, terutama dalam kaitannya dengan pertemuan – pertemuan jemaat, misalnya dalam Misa, pertemuan ibadah di lingkungan, wilayah, atau kelompok – kelompok kategorial dalam Gereja, seperti dinyatakannya dalam 1 Kor 14:18-19.
Sebagai salah satu kharisma yang diberikan oleh Allah, tentu tujuan berbahasa roh adalah untuk menolong orang lain dan pasti akan mendorong orang yang dianugerahi berbahasa roh itu untuk semakin menyatakan imannya dalam kesatuan utuh dan kerukunan dengan orang – orang beriman dalam GerejaNya dan dengan ketaatan penuh pada pimpinan Gereja atau Hierarki.
Kalau yang terjadi adalah setelah berbahasa Roh orang malah menghujat GerejaNya, maka sudah pasti itu merupakan suatu praktek penyimpangan dari kehidupan iman GerejaNya atau praktek melarikan diri dari realitas kehidupan GerejaNya.
3. Pembedaan Roh
Pembedaan Roh berarti menguji karya roh dalam hati sendiri; bukannya suatu bentuk ketaatan kepada roh saja, tapi juga merupakan bentuk pelibatan diri dalam pembangunan GerejaNya. Kita sering mendengar istilah “prioritas”, karena memang banyak hal yang harus dilakukan sehingga setiap orang harus menentukan mana yang lebih penting, lebih berguna dan terutama lebih sesuai dengan KehendakNYA. Dalam kenyataannya, praktek membedakan roh sudah lazim dilaksanakan orang dari zaman dulu, hanya saja istilahnya semakin popular digunakan.
4. Pencurahan Roh
Pencurahan roh berarti bahwa segala doa permohonan disampaikan kepada Allah agar berkat Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma, hidup kita semakin digairahkan dan dipenuhi dengan kekuasaan Roh Kudus, jadi bukan praktek pencurahan Roh Kudus melalui penumpangan tangan yang dipimpin oleh seorang pemimpin ibadat diikuti oleh segenap umat yang hadir lalu diikuti oleh penggunaan berbahasa roh secara serampangan. Kalau itu yang terjadi, maka itu adalah salah satu bentuk sakrilegi atau penghujatan atas karya Roh Kudus dalam GerejaNYA.
Melalui Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma, setiap orang beriman Katolik menerima Roh Kudus dalam hati kita, sehingga jika tidak berhati – hati, penggunaan istilah pencurahan roh dapat mengaburkan makna Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma.
Dalam Konsili Vatikan II ditegaskan pula bahwa kita diharapkan terbuka akan karya Roh Kudus dan segala karunia – NYA, untuk kemudian mau melayani Gereja dengan penuh kasih tanpa pamrih, taat pada hierarki, serta memelihara kesatuan dan kerukunan dengan semua umat beriman dalam GerejaNYA yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Selamat merayakan Pentakosta bagi kita semua.
Langganan:
Postingan (Atom)
