Powered By Blogger

Kamis, 01 Oktober 2009

Cantik atau Pintar?

In nomine Patris et Filii et Spiritu Sancti. Amen

Di Indonesia dan hampir semua negara lain di dunia, sudah jamak kita lihat adanya kontes Pemilihan Putri atau Miss dengan embel - embel lain di belakangnya. Bisa Putri Lingkungan, Miss Sejagat, atau mungkin beberapa nama lain yang disesuaikan dengan tujuan diadakannya kontes tersebut.
Tapi, pernahkan kita melihat ada ketidakonsistenan dalam kontes tersebut? Bukan bermaksud sok moralis, saya cenderung melihat bahwa prasyarat diadakannya kontes - kontes tersebut sering menyimpang dari tujuannya semula. Semisal, selalu dikatakan bahwa yang dipilih adalah gadis atau wanita yang cerdas, smart, diligent, atau berwawasan luas. Tapi, embel - embel di belakangnya selalu ada, yaitu cantik, menawan, dan berpenampilan menarik. Selanjutnya, selalu saja yang terpilih pastilah berwajah cantik, rupawan, ayu, menawan, dan berpenampilan menarik. Kalau kebetulan pintar, smart, diligent, atau berwawasan luas, ya...itu akan menjadi nilai tambah.
Saya lalu berpikir, bagaimana kalau yang kebetulan ikut itu adalah seorang wanita yang terbiasa berpenampilan apa adanya, jauh dari kesan glamor dan jauh pula dari kesan bertaburkan keharuman parfum kelas dunia, berwajah pas - pasan (maaf, kalau nggak dibilang jelek), tapi memiliki kecerdasan di atas rata - rata? Katakanlah, misalnya kecerdasannya melampaui Albert Einstein, Rene L Descartes, Isaack Newton, Thomas Alfa Edison, dan sekian banyak tokoh jenius di dunia dan di Indonesia. Apakah orang - orang dengan kemampuan seperti ini layak untuk ikut dalam kontes - kontes itu? Kalau dianggap tidak layak dari sisi hedonisme duniawi yang menggurita, mungkin kontes - kontes semacam itu sudah saatnya kita anggap sebagai kontes kecantikan belaka, yang nota bene hanya memamerkan kemolekan dan keindahan tubuh belaka plus balutan busana yang harus memenuhi selera industri fashion dunia.
Kecerdasan yang kerap ditampilkan dalam kontes kecantikan itu pun sebetulnya hanyalah kecerdasan di atas kertas, artinya kecerdasan yang bisa dipelajari oleh setiap peserta kontes selama mereka menjalani masa karantina, dan bukan kecerdasan yang lahir dari proses pembelajaran hidup sehari - hari.
Demikianlah, sedikit tumpahan pikiran yang menggelayuti isi kepala tadi pagi ketika saya menyaksikan sebuah tayangan televisi tentang kontes kecantikan di negeri kita. Mudah - mudahan, dengan tulisan ini, kita semua tergugah untuk memberi tempat yang layak bagi kehadiran kontes yang jauh lebih bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan akademik kepada khalayak ramai. Semoga...

Salam blogger,

Andi Sardono
(Tulisan ini dimuat juga di http://andisardonossi.multiply.com dan http://andisardonossi.blogspot.com)

Kamis, 10 September 2009

PREFACE BOOK “FOUNDATIONS OF DISCRETE MATHEMATICS”

Foundations of Discrete Mathematics introduces students to basic ideas and techniques of discrete mathematics. The text presumes no background in calculus or computer science, and is designed for a one– or two–semester course to be taken by students with the same mathematical maturity that is expected of calculus students. Two years of high school algebra is the only prerequisite, and students whose mathematical background exceeds our minimum requirements should be able to skim, or skip entirely, much of the material of the first four chapters.
Paul Halmos once observed: ”Calculus books are bad because there is no subject as calculus; it is not a subject because it is many subjects.“ We believe that Halmos could have leveled this same charge at discrete mathematics texts. Certainly to most college students the distinction between discrete mathematics and other mathematics is not well understood, and so there is the danger that a course in discrete mathematics will be perceived as a hodgepodge of unrelated topics or as a mathematical muddling of computer science. For this reason, we have taken care to explain what discrete mathematics is and to highlight some common threads that unify our subject. We have in mind the ground shared by algorithms and recursion, techniques of counting inherent in combinatorics and probability, and the interest in (discrete) structures common to the study of directed graphs, graphs, trees, and Boolean algebras.
As a mathematics text, our book strives to teach mathematical reasoning and an appreciation of the need to read and write mathematics with care. Because we assume no background in calculus, some compromises are inevitable. We do not define real numbers or logarithms, and our definition of a matrix is the usual doodle-definition, a rectangular array of numbers. We hope, however, that we have treated the reader honestly. Knowing that our students may soon be considering formal languages, we have tried to give an elementary explanation of the difference between a proposition and a propositional expression. We are uncomfortable with the definition found in other discrete mathematics texts that a tautology is a compound proposition that is always true. After all, there is no true proposition, compound or otherwise, which, like Cinderella’s coach-and-four, suddenly turns false at the stroke of midnight. The notion of recursive definition is fundamental to discrete mathematics, and we have no qualms in taking as an axiom that this method of definition really does define a sequence. While it is true that our axiom is a consequence of the axiom of induction, it is not fair to invite readers to prove this consequence knowing full well that they will fall into the trap of saying “It is defined for 1; if it is defined for n, it is defined n + 1; so by induction it is defined.” It is also possible to hoodwink readers by saying nothing, where in all fairness something needs to be said. For instance, the equivalence classes of an equivalence relation form a partition, and the natural relation formed from a partition is an equivalence relation. Enough said? No. We still need to know that, going from equivalence relation to partition to equivalence relation, we get home again, and that the trip from partition to equivalence relation to partition also brings us back where we started.
One misconception about our subject is that there is no room in mathematics for trial and error, as if somehow proof precedes conjecture. We therefore give the student a chance to experiment.
For the most part we have followed the guidelines presented by the Mathematical Association of America in the report from Committee on Discrete Mathematics in the First Two Years (1986). In particular, our book presents a beginning discrete mathematics course, and, as recommended by the MAA, it can be used for a one–year course, at the level of the calculus but independent of it. However, with reality in mind, we also designed the text so that it can be used readily in a one–semester course. This text is intended to be comprehensive, and students (particularly those who are taking computer science courses) may find it a handy reference at a later date.

( Sumber : Foundations of Discrete Mathematics, by : Peter Fletcher, Hughes Hoyle, and C. Wayne Patty )

Selasa, 25 Agustus 2009

Pagi yang Indah nan Telat

In nomine Patris et Filii et Spiritu Sancti. Amen

Pagi tadi (hari Selasa, 25 Agustus 2009) saya berangkat jalan bersama istri ke kantor naik K10 (seperti biasa) dengan tujuan Stasiun Kranji. Seperti biasa, kami berangkat jam 05.20 WIB dengan prediksi waktu kedatangan kami di stasiun dimaksud jam 06.05 WIB.
Tidak seperti yang sudah - sudah, ternyata keputusan kami untuk menumpang K10 yang kondisi mobilnya sudah reot dan bobrok di sana - sini ternyata mengundang resiko akan keterlambatan kami tiba di Stasiun Kranji untuk melanjutkan perjalanan kami dengan KRL Tanah Abang. Bagaimana tidak? Prediksi kami ternyata meleset sejauh 25 menit dari kenyataan kami, yaitu kami tiba di Stasiun Kranji pukul 06.30 WIB.
Dalam perjalanan kami tadi pagi, sungguh terasa sekali bahwa jalannya mobil K10 yang kami tumpangi ibarat jalannnya seekor keong yang memanggul beban berat di pundaknya.
Alhasil, kesejukan udara pagi yang harusnya kami nikmati dalam perjalanan pagi tadi (seperti halnya pagi - pagi yang lainnya) tidak dapat kami rasakan oleh karena hati kami sudah terlanjur dongkol bin jengkel binti kesal akan lambatnya mobil K10 yang kami tumpangi pagi tadi.
Indahnya pesawahan yang kami lalui dalam setiap perjalanan pagi kami menjadi tergantikan oleh kekesalan hati kami karena K10-nya tak kunjung juga tiba di Stasiun Kranji.
Ingatan kami akan riangnya siulan burung pemakan padi di pagi hari yang kami nikmati sejenak sebelum berangkat pagi menjadi hilang ditelan ketidakberdayaan kami mengatasi rasa kecewa akibat ulah sopir K10 yang mengemudikan mobilnya laksana seorang anak kecil laki - laki yang selesai menjalani prosesi khitanan.
Ini tentu berimbas pula pada keletihan fisik kami setiba di kantor kami masing - masing, yang seharusnya dapat kami netralisir dengan beristirahat sejenak sambil minum sebotol Tupperware berisi air putih sebelum beraktivitas rutin di kantor kami masing - masing. Dengan keterlambatan kami tiba di kantor, mau tak mau kami langsung beraktivitas kembali sambil mengembalikan kebugaran tubuh kami. Pendek kata, bekerja sambil pemulihan kembali.
Mudah - mudahan ada sopir Koasi yang mau meluangkan waktunya untuk membaca sekelumit kisah dalam blog saya ini agar ke depannya nanti dapat memahami keperluan para penumpang yang mesti berangkat pagi tergopoh - gopoh demi mencegah keterlambatan tiba di kantor.

Kamis, 23 Juli 2009

Krisis Keuangan Global dalam Refleksi Ajaran Sosial Gereja

Oleh : Andi Sardono

In nomine Patris et Filii et Spiritui Sancti. Amen.

Menjelang akhir tahun 2009 lalu, dunia dihebohkan dengan situasi krisis keuangan yang menimpa sendi – sendi perekonomian Negara Amerika Serikat. Ibarat sebuah kartu domino yang berdiri tegap lalu dijatuhkan berturutan dari depan dan menimpa kartu – kartu domino lainnya yang berdiri di belakangnya, segera saja krisis finansial tersebut merembet ke negara – negara lainnya di luar Amerika Serikat, termasuk Indonesia.

Krisis keuangan yang dialami oleh Indonesia memang diakui tidak separah yang terjadi pada tahun 1997, tapi tetap saja kondisi demikian membuat Pemerintah Indonesia merasa perlu membuat beberapa langkah antisipasi untuk menekan seminimal mungkin dampak krisis tersebut agar tidak merembet terlalu jauh ke sendi – sendi perekonomian masyarakat Indonesia. Yang lebih memprihatinkan kita semua tentunya juga adanya aksi teror bom di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton pada hari Jumat tanggal 17 Juli 2009 lalu yang turut memperburuk sektor kepariwisataan Indonesia.
Berkaitan dengan situasi krisis itu, sebagai bagian dari warga Negara Indonesia, melalui bacaan Injil hari Minggu tanggal 26 Juli 2009 ini yang diambil dari Injil St. Yohanes 6 : 1 – 15, kita bersama – sama diajak oleh GerejaNya untuk merenungkan akan karya belas kasih jasmani dan rohani sebagaimana juga terangkum dalam Katekismus Gereja Katholik. Dengan melakukan karya belas kasih tersebut seperti yang diajarkan oleh GerejaNya dalam Ajaran Sosial Gereja, tentunya kita diminta untuk turut andil memperhatikan sesama kita, khususnya yang terkena dampak krisis keuangan global sekarang ini. Adapun karya belas kasih jasmani dimaksud adalah : memberi makan mereka yang lapar, memberi minum mereka yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada mereka yang telanjang, mengunjungi orang sakit, mengunjungi orang tahanan dan menguburkan orang mati (bdk Mat. 25:34 – 40). Sedangkan karya belas kasih rohani adalah : mengajar (Kis 8:35-39), memberi nasehat (1 Tes 5:9-11), menghibur (Rom 12:15), mempertobatkan atau menegur orang berdosa (Kis 2:40-41, Yak 5:19-20), mengampuni semua kesalahan (Mat 18:21-22), dan menanggung dengan sabar hati (1Kor 13:5), berdoa bagi sesama, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal (Yak 5:16, 2Mak 12:45).
Kita saksikan bagaimana Kristus Yesus mengajak para muridNya untuk berhenti sejenak dari perjalanan mereka mencari tempat tenang dan sepi, kemudian memperhatikan nasib sekian ribu orang yang mengikutiNya. Ya, mereka semua tentu lelah dan kelaparan karena hendak mengikuti ke mana saja Yesus pergi. Sebagai Gembala yang Baik dan Utama sebagaimana kita hayati dalam bacaan Injil hari Minggu lalu, Yesus menunjukkan belas kasihNya dengan meminta para muridNya untuk berusaha mencari cara guna memberi makan kepada sekian ribu orang yang mengikutiNya.
Jika kita perhatikan dengan sungguh – sungguh, sebagai Gembala Utama dari GerejaNya, Yesus Kristus telah banyak meletakkan sendi dasar Ajaran Sosial GerejaNya, di antaranya yaitu mengajar banyak orang (bdk bacaan Injil hari Minggu tanggal 19 Juli 2009 yang lalu) dan memberi makan kepada orang yang lapar melalui peristiwa penggandaan roti dan ikan (bdk bacaan Injil hari Minggu tanggal 26 Juli 2009).
Selanjutnya, dalam Katekismus Gereja Katholik (KGK) No. 2419 disebutkan bahwa : " Perwahyuan kristiani... mengantar kita kepada pengertian hukum-hukum kehidupan sosial" (GS 23,1). Melalui Injil, Gereja menerima wahyu seutuhnya tentang kebenaran mengenai manusia. Kalau ia menjalankan tugasnya, yakni mewartakan Injil, maka ia memperlihatkan kepada manusia, atas nama Kristus, martabat dan panggilannya untuk persekutuan pribadi; ia mengajarkan kepadanya keadilan dan cinta kasih yang sesuai dengan kebijaksanaan ilahi.
Dari kutipan Katekismus di atas terlihat bahwa oleh GerejaNya, kita diajak dengan sungguh – sungguh untuk berpartisipasi aktif dalam mewujudkan keadilan dan cinta kasih sesuai dengan kebijaksanaan ilahi, terutama berkaitan dengan situasi krisis finansial global akhir – akhir ini.
Sementara itu pula, secara bersamaan, kita sebagai warga bangsa dan umat GerejaNya juga diajak untuk menolak ideologi totaliter, ateis (kedua paham ini disinyalir telah bergandengan tangan dengan paham komunisme dan sosialisme), individualisme dan paham keunggulan absolute dalam cara kerja kapitalisme dalam setiap usaha bersama kita melepaskan diri dari kungkungan krisis keuangan global saat ini. Ini sesuai dengan KGK No. 2425 yaitu : Gereja telah menolak ideologi totaliter dan ateis, yang dalam waktu-waktu akhir ini bergandengan dengan "komunisme" atau dengan "sosialisme". Di pihak lain ia juga telah menolak individualisme dan keunggulan absolut dari hukum pasar terhadap karya manusia dalam cara kerja "kapitalisme"Bdk. CA 10; 13;44.. Pengaturan ekonomi secara eksklusif oleh rencana sentral merusak hubungan masyarakat secara radikal; pengaturan yang eksklusif melalui hukum pasar bebas, melawan keadilan sosial, karena "ada berbagai kebutuhan manusia yang tidak mendapat tempat di pasar" (CA 34). Karena itu harus diusahakan satu pengaturan pasar yang bijaksana dan usaha-usaha perekonomian yang diarahkan kepada tata nilai yang tepat dan kepada kesejahteraan semua orang.
Secara khusus pula, Gereja mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan dengan sungguh – sungguh kehidupan sesama kita yang kondisi perekonomiannya termasuk dalam kategori miskin sebagaimana diamanatkan oleh Yesus Kristus sendiri. Gereja menegaskan hal ini dalam KGK No. 2443 yaitu : Tuhan memberkati mereka yang membantu orang-orang miskin dan mengecam mereka yang memalingkan diri dari mereka: "Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan jangan juga menolak orang yang mau meminjam dari padamu" (Mat 5:42). "Kalian sudah memperoleh semuanya itu dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma" (Mat 10:8). Menurut apa yang telah mereka lakukan kepada orang miskin, Yesus Kristus akan mengenai orang-orang pilihan-Nya. Apabila "kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (Mat 11:5), maka itulah tanda kehadiran Kristus.
Untuk mempertegas kembali Ajaran Sosial Gereja, St. Yohanes Krisostomus bahkan mengingatkan kita dengan sebuah nasehat yaitu : "tidak membiarkan kaum miskin turut menikmati harta miliknya, berarti mencuri dari mereka dan membunuh mereka. Yang kita miliki, bukanlah harta milik kita, melainkan harta milik mereka" (Laz 1,6). St. Gregorius Agung menulis untuk kita demikian : "Kalau kita memberikan kepada kaum miskin apa yang sangat dibutuhkan, kita tidak memberi kepada mereka secara sukarela pemberian pribadi, tetapi kita mengembalikan kepada mereka, apa yang menjadi hak mereka. Dengan berbuat demikian, kita lebih banyak memenuhi kewajiban keadilan daripada melaksanakan perbuatan cinta kepada sesama" (Gregorius Agung, past. 3,21)”. (bdk KGK No. 2446).
Itulah tadi sepintas tentang Ajaran Sosial Gereja dalam kaitannya dengan situasi krisis keuangan yang melanda negeri tercinta kita ini. Dengan berbekal kemampuan yang ada pada kita masing – masing, semoga kita dapat menyumbangkan sesuatu hal yang berguna untuk saling menguatkan sesama kita dalam mengatasi dampak krisis keuangan global saat ini. Tentunya, harapan kita bersama adalah agar situasi krisis tersebut dapat kita dilalui oleh bangsa dan negara tercinta kita ini, serta oleh sekian banyak negara berkembang yang mengalami dampak serupa.

Rabu, 15 Juli 2009

Hidup Setia di Bawah Penggembalaan GerejaNya

Oleh : Andi Sardono

Kita tentu ingat akan sebuah lagu yang bagus dan terdapat dalam Buku Puji Syukur, yaitu lagu no. 646 yang menggambarkan keyakinan iman dari salah seorang nabi Perjanjian Lama, yaitu Daud. Lagu itu dikutip dari Mazmur 23 : 1 – 6 yang juga merupakan Mazmur Daud, berkisah tentang kedudukan Allah sebagai Gembala bagi dirinya (Daud) yang penuh perhatian membimbing, mengarahkan dan menjaganya siang dan malam.
Kesaksian iman Daud itu kemudian ditegaskan kembali oleh Yesus Kristus, sebagaimana Bacaan injil hari Minggu tanggal 19 Juli 2009 yahg diambil dari Injil St. Markus 6:30 – 34. Kita bisa simak, Dia mewartakan DiriNya sebagai Gembala yang menaruh belas kasih kepada sekian banyak orang yang datang dari segenap penjuru kota di Israel untuk mengikutiNya bersama para muridNya. Dalam peristiwa itu, Yesus menggenapi apa yang pernah dinubuatkan oleh Daud dalam kutipan Mazmur tadi. Begitu melihat rombongan besar orang yang mengikutiNya dari belakang, Dia tergerak oleh rasa belas kasih dan memutuskan untuk menunda rencana semula beristirahat bersama para muridNya dan kemudian mulai mengajarkan banyak hal kepada mereka semua (orang – orang yang mengikutiNya) laksana Gembala “yang membaringkan domba – dombaNya di padang luas yang berumput hijau, yang membimbing mereka semua ke air yang tenang, yang menyegarkan jiwa – jiwa para dombaNya dan yang menuntun mereka di jalan yang benar dalam NamaNya yang Kudus,” sama persis seperti kutipan Mazmur 23:1 – 6.
Tugas penggembalaan yang dirintis dan dilaksanakan oleh Yesus Kristus tidak hanya berlangsung ketika Dia masih berada di dunia bersama para muridNya, tetapi juga ketika Dia sudah naik dan duduk di sisi kanan BapaNya pun tugas penggembalaanNya itu kemudian diteruskan oleh para Rasul Kristus yang terhimpun dalam Gereja Katholik. Hal ini terjadi setelah Dia meminta kesediaan St. Petrus (sebagai bukti cinta setia St. Petrus kepada Kristus Yesus) untuk melanjutkan tongkat penggembalaanNya sepeninggal Dia naik ke Surga (bdk Yoh 21:15 – 19).
Selanjutnya Kitab Suci mencatat, sebagai Paus Pertama Gereja Katholik, St. Petrus memimpin Konsili Yerusalem pada tahun 51 (Kisah Para Rasul 15) dan menyelesaikan perselisihan tentang Ajaran GerejaNya. Menurut Tradisi Suci, dia menggembalakan sekian banyak umat Katholik yang pada waktu itu sudah tersebar merata hampir di semua bagian daratan Asia dan Afrika.
Dalam Katekismus Gereja Katholik dijelaskan pula bahwa di bawah bimbingan Roh Kudus, GerejaNya (yang dibangun di atas dasar St. Petrus dan para Rasul Kristus) kemudian mengajarkan banyak kebenaran yang dipelajari Gereja dari para RasulNya. Secara terus – menerus, GerejaNya diajari, dibimbing, dan dikuduskan oleh Roh Kudus yang bekerja melalui pengganti para RasulNya, yaitu Dewan Para Uskup dalam persatuan utuh dengan pengganti St. Petrus sebagai Paus (Bapa Suci). Ini merupakan salah satu penjelasan mengapa Gereja Katholik mewarisi sifat Apostolik dan sekaligus membantah tudingan miring dari sementara orang bahwa dalam GerejaNya tidak ada Roh Kudus sehingga menurut mereka (segelintir orang) GerejaNya perlu diperbarui.
Sebagai umat beriman yang menerima panggilanNya untuk bersatu dalam pangkuan GerejaNya, kita semua adalah juga merupakan domba – dombaNya yang berada di bawah penggembalaan Paus Benedictus XVI sebagai penerus St. Petrus seperti halnya Paus Yohanes Paulus II dan para Bapa Suci pendahulunya.
Konsekuensi logisnya, kita pun diminta oleh Kristus Yesus untuk tetap berjalan sesuai tuntunan GerejaNya. Dalam Lumen Gentium 25 (LG 25) ditegaskan bahwa sebagai orang beriman, kita diwajibkan untuk menerima ketetapan – ketetapan yang diajarkan oleh GerejaNya (baik yang disampaikan melalui Wewenang Mengajar Gereja yang Luar Biasa maupun melalui Wewenang Mengajar Gereja yang Biasa) dengan penuh ketaatan iman, kepatuhan kehendak, dan akal budi yang suci. Sebagai domba – dombaNya, tentu kita merasa berat untuk menerima konsekuensi di atas jika kita hanya memandangnya dari sisi manusiawi kita saja. Terlebih, ada banyak tawaran di dunia berselubungkan paham atau isme yang menyesatkan bak “serigala berbulu domba” yang silih berganti menghampiri kita dan semuanya berpotensi dapat menggoyah komitmen kesetiaan kita untuk hidup jujur dan benar sebagai domba – dombaNya. Salah satu contoh konkritnya, misalnya ketika kita merasa bahwa penderitaan dan kesulitan yang kita alami di dunia ini tidak kunjung teratasi padahal kita selalu menghadiri Perayaan Ekaristi dan kemudian datang suatu paham yang menawarkan bentuk ibadat lain (dari yang selama ini kita kenal dalam GerejaNya) yang lebih mengedepankan euphoria atau heboh gegap gempita sesaat lengkap dengan iming – iming kesuksesan duniawi, maka kita cenderung untuk mengikuti paham tersebut. Lambat laun, kita menjadi malas menghadiri Perayaan Ekaristi dan lebih memilih menghadiri ibadat lain yang lebih menggiurkan atau lebih liberal dari sisi duniawi. Atau, ada juga yang menawarkan bentuk lain dari Tata Perayaan Ekaristi yang sudah ditetapkan oleh GerejaNya dengan memasukkan unsur – unsur lain dari suatu paham ke dalam Tata Perayaan Ekaristi. Ini jelas bertentangan dengan penegasan para Rasul Kristus seperti yang terangkum dalam Katekismus Gereja Katholik yaitu bahwa Kristus membagikan karunia keselamatanNya melalui Liturgi GerejaNya.
Tentu, masih banyak lagi contoh konkrit lainnya yang semuanya itu menuntut kita untuk mau bersikap waspada dan berhati – hati terhadap serbuan “serigala berbulu domba” yang coba mencerai – beraikan kita dari kumpulan domba yang terhimpun dalam GerejaNya.
Dari pihak Allah, ternyata Dia tidak meninggalkan kita sendirian berjuang menjalankan Amanat Kristus Yesus dalam GerejaNya. Dengan kasihNya yang begitu besar, Dia tidak menginginkan satu pun dombaNya yang hilang tersesat. Sesuai JanjiNya, Dia mengutus Roh Kudus kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus dan menaati perintah – perintahNya (bdk 1 Yoh 3:23 – 24, 1 Yoh 4:13, 1 Kor 12:3, dan Kis 5:29 – 32). Dengan kata lain, Roh Kudus membimbing setiap orang untuk datang kepadaNya melalui GerejaNya.
Akhirnya, semoga pengalaman hidup yang ditunjukkan sekian banyak orang yang mengikuti Yesus bersama para RasulNya seperti kita simak dalam Injil St. Markus dan kesaksian iman para martir GerejaNya dapat membangkitkan semangat kita semua untuk bertahan hidup dalam kesetiaan iman, keteguhan harapan, dan kerelaan kasih di bawah penggembalaan GerejaNya. Amin.
In nomine Patris et Filii et Spiritu Sancti. Amen

Menghadapi Konsekuensi Penolakan dan Penganiayaan sebagaimana Teladan Hidup Kristus dan Para RasulNYA

Oleh : Andi Sardono
Dalam setiap usaha kita untuk mewartakan AjaranNYA dengan sungguh – sungguh, kita pasti pernah mengalami penolakan dari orang – orang yang kita jumpai, entah itu dari sahabat, teman, atau mungkin dari kaum kerabat sendiri. Umumnya, penolakan itu lebih disebabkan karena pola pikir yang sudah terlanjur tertanam dalam diri pribadi mereka.
Bacaan Injil hari Minggu tanggal 5 Juli 2009 yang dikutip dari Injil St. Markus 6 : 1 – 6 mengedepankan sebuah kisah penolakan yang dialami oleh Yesus Kristus ketika Dia mengawali karya perutusanNYA di tanah tempat kelahiranNYA sendiri.
Dia ditolak justru oleh orang – orang yang sedaerah denganNYA. Mereka tidak percaya akan pewartaan yang berasal dari Bapa dan memperoleh kepenuhanNYA dalam Diri PutraNYA, Yesus Kristus. Dalam benak mereka, sudah terlanjur tertanam pola pikir bahwa seorang anak tukang kayu tidak akan bisa menjadi pewarta Sabda Allah lengkap dengan mukjizat dan aneka karuniaNYA. Sungguh ironis penolakan yang dialamiNYA itu, sehingga Dia sendiri heran atas ketidakpercayaan mereka.
Rupanya, penolakan yang dialami oleh Yesus Kristus sebagai Kepala GerejaNYA, kelak juga dialami oleh para muridNYA di kemudian hari. Bahkan, mengikuti jejak Yesus Kristus yang wafat sebagai martir di atas kayu salib, beberapa dari mereka pun juga mengalami penganiayaan pada awal perkembangan GerejaNYA, sampai akhirnya wafat sebagai martir di tempat mereka berkarya menjalankan amanat Kristus Yesus. Ya, sepeninggal Kristus Yesus naik ke Surga dan setelah menerima karunia Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta, para RasulNYA (minus Yudas Iskariot) yang adalah Uskup – uskup Gereja Katholik yang pertama, kemudian melanjutkan karya pewartaan Kabar Gembira ke seluruh penjuru dunia.
Mereka dengan gagah berani membaptis sesuai amanat Kristus Yesus dalam Mat 28 : 19 – 20, mengarahkan dan memelihara GerejaNYA secara Satu, Kudus, Katholik, dan Apostolik (Katekismus Gereja Katholik No. 781 – 870). Walau mereka ditolak oleh kaum Yahudi, suku asal mereka, namun akhirnya hasil perjuangan mereka hingga tetes darah terakhir sebagai martir membuahkan benih – benih iman Katholik di tempat mereka berkarya. Menurut Tradisi Suci, banyak orang yang semula membenci mereka namun begitu melihat kegigihan mereka hingga wafat sebagai martir lantas berbalik kepada Allah dan memberi diri dibaptis dalam kesatuan utuh dengan GerejaNYA.
Berikut ini adalah nama – nama para Rasul Kristus sebagaimana dimaksud :
1. St. Petrus : berkarya di daerah seputar Yerusalem, Antiokhia, kemudian di Roma sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Roma semasa kekaisaran Nero.
2. St. Andreas : berkarya di Yunani bagian Utara (Epirus dan Scythia) dan di Patras sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Patras.
3. St. Yakobus bin Zebedeus : berkarya di daerah seputar Yerusalem dan wafat sebagai martir semasa pemerintahan Raja Herodes Agripa (Kis 12:1 – 2).
4. St. Yohanes Penginjil : berkarya di daerah Roma dan Efesus (Asia Kecil). Dia sempat diasingkan ke Pulau Patmos selama setahun atas perintah Kaisar Domitian setelah usaha pembunuhan terhadapnya yang dilakukan atas perintah sang Kaisar mengalami kegagalan.
5. St. Filipus : berkarya di daerah Phrygia sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Hierapolis (Yunani) semasa Kaisar Domitian berkuasa.
6. St. Bartolomeus : berkarya di Etiopia, India, Persia, dan Armenia sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Abanopolis (Tepi Barat Laut Kaspia).
7. St. Thomas Didimus : berkarya di Laut Kaspia, Parthian, Medes, Teluk Persia, dan India sebelum akhirnya wafat sebagai martir di Kota Madras, India (tempatnya sendiri bernama Carmine).
8. St. Matius : berkarya di Yudea, Etiopia, Persia, dan Parthia sebelum wafat sebagai martir.
9. St. Yudas Tadeus : berkarya di Yudea, Samaria, Idumea, Siria, Beirut, Edessa, Mesopotamia, Persia, dan Libya sebelum wafat sebagai martir di Persia.
10. St. Yakobus bin Alfeus : berkarya di Yerusalem sampai wafat sebagai martir di Yerusalem juga.
11. St. Simon : berkarya di berbagai tempat di Timur Tengah sampai wafat sebagai martir.
Selain pengalaman mereka, tentu masih banyak lagi pengalaman serupa, seperti penolakan, penganiayaan, dan pengasingan yang juga banyak dialami oleh para Kudus Allah lainnya dalam mewartakan Ajaran GerejaNYA.
Pesan yang hendak disampaikan dari pengalaman hidup para Rasul Kristus bagi kita yang sudah menerima Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma tentunya adalah agar di kala kita mengalami berbagai peristiwa pahit dalam mewartakan AjaranNYA, kita hendaknya tidak berputus asa, tetapi mampu tampil sebagai saksi akan Iman Kristiani sebagaimana diamanatkan oleh Para Rasul Kristus dan dirangkum dengan sangat tepat dalam Katekismus Gereja Katholik No. 1316, sebagai berikut :
“Krisma (Penguatan) menyempurnakan rahmat Pembaptisan. Itu adalah Sakramen yang memberi Roh Kudus, supaya mengakarkan kita lebih kuat dalam persekutuan anak – anak Allah, menggabungkan kita lebih erat dengan Kristus, memperkuat hubungan kita dengan Gereja, membuat kita mengambil bagian yang lebih banyak dalam perutusannya dan membantu kita supaya memberi kesaksian iman Kristen dengan perkataan dan perbuatan.”
Barangkali, kita tidak akan pernah wafat sebagai martir seperti perjalanan hidup para RasulNYA, tapi dengan menimba semangat dari para Kudus Allah yang rela wafat demi mewartakan AjaranNYA, setidaknya kita memiliki jaminan akan kehidupan kekal di Surga bagi setiap orang yang hidup dalam persatuan utuh dengan Kristus (1 Kor 15 : 20 – 22) sebagaimana tertulis dalam Katekismus Gereja Katholik No. 655 sebagai berikut :
“ Akhirnya kebangkitan Kristus - dan Kristus yang telah bangkit itu sendiri - adalah sebab dan dasar utama kebangkitan kita yang akan datang: "Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung... Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikianlah semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus" (1 Kor 15:20-22). Selama menantikan pemenuhan ini, Kristus yang telah bangkit hidup dalam hati umat beriman. Dalam Kristus yang telah bangkit, umat Kristen mengecap "karunia-karunia dunia yang akan datang" (Ibr 6:5) dan hidupnya dilindungi Kristus di dalam Allah Bdk. Kol 3:1-3., "supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka" (2 Kor 5:15).”
Semoga...

Rabu, 24 Juni 2009

Menghargai Martabat dan Jabatan Imamat seturut Teladan dan Kesaksian Iman Para Kudus Allah

Oleh : Andi Sardono
Selama 1 (satu) tahun ke depan (terhitung mulai tanggal 19 Juni 2009 hingga 19 Juni 2010), kita diajak oleh GerejaNYA untuk bersama – sama mendukung berlangsungnya Tahun Imam, tahun yang didedikasikan oleh GerejaNYA untuk berbicara secara khusus kepada para Imam dan secara umum kepada semua umat beriman dan seluruh masyarakat luas bahwa GerejaNYA berbangga dengan para imamNYA, mencintai mereka, menghormati mereka, mengagumi cara hidup mereka, dan sekaligus GerejaNYA mengakui dengan penuh rasa syukur karya pastoral dan kesaksian hidup para imam tersebut (Claudio Cardinal Hummes, Uskup Agung Emeritus Sao Paolo, Prefek Kongregasi Kudus).
Sambil menyimak dan merenungkan bacaan Injil hari Minggu tanggal 12 Juli 2009 yang diambil dari Injil St. Markus 6:7 – 13, kita akan bersama – sama pula menyimak dari tulisan ini tentang gagasan martabat dan jabatan imamat yang disampaikan oleh para Kudus Allah dan Bapa GerejaNYA. Berikut adalah kesaksian para Kudus Allah dan Bapa GerejaNYA seperti dikutip dari tulisan tentang Martabat dan Jabatan Imamat yang disusun oleh St. Alfonsus Maria de Liguori (salah seorang Doktor Gereja yang wafat pada tahun 1787 di usia 91 tahun) :
- St. Ignasius (martir) berkata bahwa imamat adalah martabat yang paling luhur dari segala martabat yang ada. Dengan kata lain, puncak segala martabat adalah imamat.
- St. Efrem berucap bahwa imamat adalah suatu martabat yang tak terhingga dan merupakan suatu mukjizat yang menakjubkan, yang agung, yang dahsyat, dan yang tak terhingga.
- St. Yohanes Krisostomos berujar bahwa walau tugas – tugas imamat dilakukan di seluruh dunia, tapi imamat sesungguhnya terhitung di antara hal – hal surgawi. Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa barangsiapa menghormati imam, berarti menghormati Kristus. Barangsiapa menghina imam, berarti pula menghina Kristus.
- Cassian berkata bahwa imam Tuhan mengungguli segala kekuasaan duniawi dan mengungguli segala kekuasaan surgawi. Imam lebih rendah hanya dari Allah saja.
- Paus Innosensius III bersaksi bahwa imam berada di antara Tuhan dan manusia; lebih rendah dari Allah, tapi lebih tinggi dari manusia.
- St. Dennis berkata bahwa imam adalah manusia ilahi, sehingga imamat adalah suatu martabat ilahi.
- St. Maria dari Oignies sangat menghormati martabat imamat, sehingga ia tak segan – segan mencium tanah yang dilewati oleh para imam.
Dari semua kesaksian di atas, St. Alfonsus Maria de Liguori mengajak kita semua untuk mengetahui bahwa Kristus Yesus telah mengatakan bahwa kita wajib memperlakukan para imam GerejaNYA seperti kita memperlakukanNYA sebagaimana dikutip dari Injil, ” Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku.”
Selain dari beberapa point di atas, St. Alfonsus Maria de Liguori juga membagi penilaian martabat imamat berdasarkan kodrat jabatannya yang luhur, berdasarkan kuasa yang dimiliki para imam atas Tubuh Nyata dan Tubuh Mistik Kristus, dan berdasarkan tingginya posisi yang diduduki oleh para imam. Berikut ini adalah penjelasan singkat dari tulisan beliau :
1. Berdasarkan kodrat jabatannya yang luhur.
Melalui GerejaNYA, Allah telah memilih para imamNYA untuk menyelenggarakan segala urusan dan perhatianNYA di dunia ini, sehingga St. Sirilus dari Alexandria berkata bahwa jabatan yang dipercayakan kepada para imam adalah sungguh ilahi. Bahkan, St. Ambrosius menyebutkan jabatan imamat sebagai profesi ilahi. Allah telah menetapkan para imamNYA sebagai pelayan untuk menjadi duta umum bagi GerejaNYA, untuk menghormatiNYA, dan untuk memohonkan rahmat – rahmat dari Allah bagi segenap umat beriman. Tanpa kehadiran seorang imam, GerejaNYA tidak dapat mempersembahkan penghormatan kepadaNYA sebesar Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh para imamNYA. Tanpa imam, persembahan GerejaNYA hanya berarti sebagai persembahan kurban hidup segenap manusia. Bandingkan dengan Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh seorang imam sebagai wujud penghormatan kepada Tuhan yang jauh lebih besar dari semua yang telah diberikan (maupun yang akan diberikan) kepada Tuhan oleh segenap para Malaikat dan para KudusNYA (bersama St. Perawan Maria). Mengapa? Karena sembah sujud mereka tidak memiliki nilai yang tak terhingga dibandingkan dengan Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh imamNYA kepada Tuhan di altar GerejaNYA.
2. Berdasarkan kuasa yang dimiliki oleh para imam atas Tubuh Nyata dan Tubuh Mistik Kristus.
Kuasa imam atas Tubuh Nyata Kristus berkaitan erat dengan pendarasan kata – kata konsekrasi oleh para imam GerejaNYA. Inkarnasi SabdaNYA membuat Kristus Yesus taat dan datang ke dalam tangan – tangan para imam dalam rupa Sakramental. Ketika imam berucap “HOC EST CORPUS MEUM”, Kristus hadir dan turun ke atas altar dalam Tubuh dan DarahNYA. Para imam dapat dengan leluasa memindahkan Tubuh dan DarahNYA dari satu tempat ke tempat lainnya, membagikanNYA kepada segenap umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi, mengunciNYA dalam tabernakel, mentahtakanNYA di atas altar atau membawaNYA keluar untuk dibagikan kepada umat beriman yang terbaring lemah karena sakit. Tentang hal ini, St. Laurensius Justinian berkomentar, ”Oh, betapa amat dahsyat kuasa mereka.”
Sedangkan, kuasa imam atas Tubuh Mistik Kristus (yaitu segenap umat beriman dalam GerejaNYA) berkaitan dengan kuasa kunci yang dimiliki oleh setiap imam (sebagai pewaris kuasa St. Petrus) untuk membebaskan para pendosa dari neraka, membuat para pendosa layak memasuki Firdaus, dan mengubah para pendosa dari budak setan menjadi anak – anak Allah. Kuasa itu ditunjukkan oleh para imam di kamar pengakuan dosa ketika mereka melayani Sakramen Pengakuan Dosa. Para imam memiliki kuasa untuk menentukan apakah si pendosa layak untuk mendapatkan absolusi atau tidak dan Kristus sendiri wajib tunduk pada keputusan yang diambil oleh para imamNYA. Ini diperkuat oleh kesaksian St. Maximus dari Turin, ”Begitulah kuasa penghakiman yang diserahkan kepada St. Petrus, bahwa keputusan tersebut membawa serta dengannya keputusan Allah.” St. Petrus Damianus menulis bahwa penghakiman imam mendahului, dan Tuhan mengikuti. Karenanya, St. Yohanes Krisostomus menyimpulkan, “Tuan penguasa alam semesta hanya mengikuti hambaNYA dalam meneguhkan di Surga segala hal yang telah diputuskan hambaNYA itu di bumi.” Tidak berlebihan jika St. Ignasius (martir) mengajak kita untuk berpikir bahwa para imam adalah penyalur rahmat – rahmat ilahi dan sahabat karib Tuhan.
3. Berdasarkan tingginya posisi yang diduduki oleh para imam.
Dalam Sinode Chartres tahun 1550, jabatan imamat disebut kursi para Kudus. Mereka disebut sebagai Vikaris Yesus Kristus, sebab mereka menduduki tempatNYA di dunia. Kepada para imam, St. Agustinus berkata, ”Kalian menduduki tempat Kristus, sebab itu kalian adalah wakilNYA.” Dalam Konsili Milan, St. Carolus Borromeus menyebut para imam sebagai wakil pribadi Tuhan di dunia. Sebelum dia, para rasul berkata, “Bagi Kristus, kami adalah utusan – utusan; Tuhan seolah didesak oleh kami. Ketika Dia naik ke surga, Yesus Kristus memberikan tempatNYA di dunia kepada para imamNYA sebagai pengantara antara Tuhan dan manusia, teristimewa di altar.”
Demikianlah, uraian singkat tentang martabat dan jabatan imamat yang kita ambil dari kesaksian iman para Kudus Allah dan Bapa GerejaNYA. Sebagai umat GerejaNYA, kita semua tentu sangat diharapkan untuk mendukung para imam GerejaNYA dalam menggeluti spiritualitas imamat yang mereka terima agar tugas pelayanan yang mereka emban dapat dilaksanakan sesuai panggilan imamat mereka. Bagi kita, semoga teladan dan kesaksian iman para Kudus Allah dan Bapa GerejaNYA seperti tertulis di atas membangkitkan kesadaran kita semua untuk mau menghormati dan menghargai martabat dan jabatan imamat.